[Nogu Story] Besok Hari Apa?

PERHATIAN! Ini cerita kemarin, sewaktu aku mengajar anak-anak kelas 6 SD di kelas TSF 1 dan 2. FYI, TSF itu singkatan dari Tembus SMP/SMA Favorit. Kalau judulnya bertanya demikian, berarti maksudnya yaa hari ini. Kemarin belum sempat diposting euy!


Kelas TSF 1 siang itu agak sepi. Sebenarnya satu kelas memang hanya diisi 7 orang yang terdiri dari lima orang putra dan dua orang putri. Ehya, plus satu orang tutor yang baik hati ding! *mohon untuk tidak protes, pliiis * Saat saya masuk ke kelas itu, siswa yang hadir baru 4 orang. Tak lama kemudian, muncullah dua orang yang datang terlambat.

“Rafly ke mana?” tanyaku karena hanya dia yang belum hadir.
“Mau siap-siap Valentine-an kali, Kak?” jawab Adji asal.
“Valentine tuh nggak boleh tahu..!” sahut Rivo.

Wah, menarik nih. Meski kupikir Rivo nggak paham secara mendalam juga dengan apa yang baru saja disampaikannya tadi, tapi berdiskusi secara sederhana dengan mereka tentang Valentine seru juga kayaknya. Tanya2 lagi ah… *Lah, kapan belajarnya?

“Emang Valentine apa gitu?” balasku sambil menghapus papan tulis yang penuh dengan rumus dan angka-angka.
“Itu loh, Kak, lope lope gitu..” kata Adji.

Haha… lucu juga. Ohh, jadi gitu yaa… Aku senyum-senyum membelakangi mereka. “Masih kecil udah mikirin gituan, belajar aja yang rajin! Bentar lagi kan mau UASBN..” kataku (sok) bijak. Hana dan Gita, dua gadis pemalu yang duduk di kursi terdepan cuma bisa senyum malu-malu.

Baiklah, mari kita tinggalkan kelas TSF 1, berlanjut ke TSF 2..

Lain kelas, lain murid. Sama-sama rusuh, tapi pelakunya beda-beda. Kelas TSF 1 didominasi putra hingga yang putri tampak malu-malu, sedangkan kelas TSF 2 lebih didominasi siswa putri. Tapi bisa dibilang, ini kelas yang paling beragam tipe anaknya. Ada yang pendiem, pendiem banget, berisik, berisik banget, ada yang lagi puber2nya. Ada juga yang mengikuti kelas karena memang serius belajar. Baginya, waktu sangatlah berharga. Jadi, kalo temen2nya rusuh di kelas, dia cuma bisa bilang, “Lanjut aja deh, Kak!” *sepertinya kamu tipe penghitung untung rugi juga yaa? Hihi..

Di sela-sela mengerjakan latihan soal, biasanya para siswa itu asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang serius ngerjain soal, ada yang sambil ngobrol, ada yang sambil nge-gadget. Aku sih tipe yang nggak terlalu ngelarang, asal dalam waktu yang ditentukan soal-soal udah dikerjain dan sewaktu pembahasan soal mereka menyimak dengan baik. Saat itulah Syifa bertanya padaku,

“Kak, besok hari apa?”
“Hari Selasa,”
“Besok tuh hari Valentine..”
“Oh, bukan.. besok hari Selasa.”

Selesai. Nggak mau dibahas lebih lanjut. Teringat status seorang teman di fesbuk *laik dis yo! * yang mengatakan kalo dia tuh suka heran dengan orang-orang yang katanya melarang perayaan valentine tapi dia sendiri yang aktif menggembar-gemborkan tentang valentine itu sendiri sedangkan temannya yang “merayakan” justru biasa2 aja. Meski ada yang bikin aku sebel dengan kesimpulan di statusnya *nggak usah dibahas, agak2 SARA soalnya* tapi tentang itu aku sepakat juga.

Kadang kupikir, kalo kita nggak ngerasa perayaan itu ada atau dibuat2, yaa mending nggak usah dibahas toh! Justru seolah2 kita mengakui eksistensi hari itu. Mungkin ini sejalan juga dengan status fesbuk abangku:

Dah tau itu ga pantes d rayain,tp d inget2 terus, yg ga tau jd pd tau, Cwappe dwehh

Hihi.. Sepakat, a’! Tapi temenku, sang manajer akademik, punya pandangan lain. *begitulah, seringkali hal2 menarik di kelas akan kubahas di ruang tutor. Obrolan memang makin seru dengan topik-topik yang diangkat dari kelas.* Nyatanya, masih banyak orang yang terjebak oleh akibat buruk dari perayaan valentine itu. Mereka jadi generasi yang ikut-ikutan, tapi nggak tau asal muasal kenapa perayaan itu ada.

“Aku juga dulu nggak ngerti loh, tapi semenjak ada yang mengkampanyekan anti valentine, aku jadi tau,” kata temanku. Ahya, mungkin karena “romantisme” valentine udah terlalu jadul bagiku kali yaa, makanya kupikir nggak perlu ngebahas soal valentine lagi. Tapi kalo menengok siswa2 di kelas TSF itu, yang “masih kecil” udah tau soal valentine, sepertinya agenda untuk mensyiarkan tentang perayaan2 yang nggak jelas asal muasalnya memang harus dilanjutkan. Apalagi kalo baca kasus coklat berhadiah kondom yang dijual bebas di beberapa minimarket. Weleeeh… parah nian!

Maka. menjadi menarik ketika akhirnya muncul wacana untuk mengubah tanggal 14 Februari yang bagi sebagian orang dianggap sebagai Hari Valentine menjadi Hari Menutup Aurat Internasional. Emm, sebenernya kalo mau dikritisi yaa sebenernya nggak perlu ada hari2 kayak gitu. Kalo dibilang Valentine sebagai hari kasih sayang, kita kan harus berkasih sayang tiap hari. Trus kalo menutup aurat, setiap hari juga kan?

Tapi, terlepas dari itu, aku justru salut dengan salah satu gerakannya yang bertajuk GEMAR (Gerakan Menutup Aurat). Silakan lihat halaman 14 Februari: Hari Menutup Aurat Internasional untuk mengetahui apa saja yang sudah dilakukan mereka untuk memberikan kesadaran masyarakat muslim untuk menutup aurat.

Nah, kan, pembahasannya jadi panjang. Yasuw, mari kita tutup dengan pesan sponsor:
bantu like fotoku di sini yaa kakak-kakak. hehe..

17 responses

  1. Kalau menurutku, hari menutup aurat itu ide yang bagus. Mungkin banyak orang bilang: menutup aurat kan seharusnya tiap hari?? Emang iya, tapi itu kan untuk kita para jilbaber yang sudah sadar. Menurutku, objek tujuan ini sebenernya tuh untuk mereka yg belum menutup auratnya, bukan untuk kita-kita yg berjilbab. Kalau untuk kita sudah jelas hukumnya: WAJIB!Namanya juga kampanye *only IMHO😀

  2. fightforfreedom said: Kalo yg disamping itu ibunya, udah minta ijin belum?🙂

    ibunya sih tau waktu sy foto2 anaknya, tapi blum minta izin kalo fotonya dipake buat lomba. waduh, menyalahi UU IT ini yaa pak? :p

  3. andiahzahroh said: Kalau menurutku, hari menutup aurat itu ide yang bagus. Mungkin banyak orang bilang: menutup aurat kan seharusnya tiap hari?? Emang iya, tapi itu kan untuk kita para jilbaber yang sudah sadar. Menurutku, objek tujuan ini sebenernya tuh untuk mereka yg belum menutup auratnya, bukan untuk kita-kita yg berjilbab. Kalau untuk kita sudah jelas hukumnya: WAJIB!Namanya juga kampanye *only IMHO😀

    iya An.. ini mah cuma kadang aku aja yg suka agak2 gimana gitu dgn perayaan atau momen2 tertentu :pmakanya di sini kubuat cover both side, dari komen temenku juga yg sepedapat sama andiah🙂

  4. chifururu said: keren juga ya kalo menyaingi VD dengan Hari Menutup Aurat Internasional…

    kegiatan GEMAR yg berlangsung di seluruh Indonesia itu keren.. bisa ga yaa kalo kita bikin semarak RR? hehe..

  5. puritama said: “Dah tau itu ga pantes d rayain,tp d inget2 terus, yg ga tau jd pd tau”bener…padahal aku udah kadung lupa, lah inget lagi…😄

    nah, mungkin vera sama kayak aku yg udah ga ngerasain “romantisme valentine” lagi. tapi nyatanya emang masih banyak yg belum terbuka pikirannya sih ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s