Jatuh yang Heroik

Kupikir, sejak jatuh dari motor dan membawa kerugian bukan hanya untukku tapi juga orang lain, aku sudah menghapus kata “jatuh yang heroik” dalam kamus perjalananku dengan menggunakan motor. Tapi ketika akhirnya aku terjatuh lagi, dan nyatanya memecah rekor jatuh yang heroik sebelumnya, sepertinya aku bukan hanya harus menghilangkan pikiran tentang jatuh yang heroik itu, tetapi juga lebih berhati-hati lagi ketika melaju bersama motorku.

Yang menyedihkan, rasanya aku terlalu PD bahwa maut tak akan menjemput saat kecelakaan motor menimpaku. Entahlah. Rumit sebenarnya. Mungkin juga saat aku menyadari bahwa aku akan terjatuh dan aku memilih untuk memasrahkan segalanya kepada Allah, saat itu juga sebenarnya aku sudah siap kalau Malaikat Izrail mencerabut nyawaku. Yang pasti, kecelakaan motor yang kualami beberapa waktu yang lalu memberi pelajaran yang berarti untukku.

pasca kecelakaan, luka di dagu mengeuarkan banyak darah.
tapi nggak lupa foto-foto dulu, hehe.. jangan ditiru!😛

Luka di daguku itu mungkin bisa menjadi pengingat yang baik. Aku tak pernah membayangkan bahwa jalan2 ke Kalimantan membawa satu episode kecelakaan yang mengerikan. Biasanya kakiku hanya lecet2, memar di tangan/kaki, dan yang lebih parah justru motorku. Entah bodynya yang rusak atau foot stepnya yang patah. Tapi kali ini justru sebaliknya. Luka yang kudapatkan bukan hanya di kedua lutut dan tanganku, tetapi juga di daguku. Hingga enam jahitan sebagai upaya untuk menutup dagu yang robek pun tak terhindarkan. Belum lagi perasaan bersalah yang melingkupi, bahwa penumpangku turut mengalamh luka2 juga serta motor yang lecet2 itu bukan milikku.

Ah, sepertinya aku tak perlu menceritakan kembali peristiwa dijahit untuk pertama kalinya dalam hidupku itu. Bukan untuk diingat.

Setelah 10 hari berlalu dan aku harus memakai perban plus masker untuk menutup luka, akhirnya jahitanku dilepas juga. Mungkin ini aneh. Tapi saat menemukan orang yang senasib denganku (diperban di bagian dagu) di puskesmas kemarin, rasanya aku ingin berujar, “You are not alone!” Apalagi saat dokter yang menangani dagu2 kami bilang, “Dia kecelakaan motor juga. Di Riau. 3 jahitan.” Mungkin sang dokter akan berkata dalam hati, kecelakaan motor koh jauh2 banget?

Yaph. Inilah oleh-oleh yang kubawa. Ketika pagi ini perbanku dilepas (dan aku tak perlu mengenakannya lagi), aku bersyukur bahwa jahitan itu tidak menimbulkan keloid. Bekasnya pun tak terlalu terlihat jelas. Lumayan rapi. Padahal aku sempat menyangsikan keahlian para perawat di PKM Teluk Pandan itu. Hehe.. Maaf yaa Mbak-mbak..

***
di balik 3 jendela,
6 Maret 2012 pk. 07.00 wib
dakara, kimi no koto wasurenai yo u_u”

6 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s