[NgobrAy] Ayah Memberi Solusi, Bukan Melarang

Saat seorang anak terjatuh ketika belajar bersepeda, ibu teramat khawatir dan cenderung melarang sang anak untuk naik sepeda lagi. Tapi ayah beda. Ia justru membiarkan. Bahwa jatuh juga merupakan bagian dari belajar.

Begitulah sikap ayah pada umumnya. Ah, kalaupun tidak, aku akan bilang, begitulah sikap ayahku.

Kupikir, aku bukan lagi anak kecil yang selalu mengadu pada ayah ketika terjatuh, dari motor misalnya. Mungkin alasan usia diperkuat dengan perhitungan2 seperti kalau bilang nanti nggak boleh bawa motor lagi. Kekhawatiran akan larangan ayah itulah yang membuatku memilih menyembunyikan lecet atau memar yang timbul akibat terjatuh. Tapi seberapa lama sih kita menyembunyikan luka dari orang2 terdekat kita? Nyatanya, meski mulut ini bungkam, rahasia itu seringkali terbongkar juga. “Kamu jatuh dari motor, yaa?” tanya ayah. Dan petunjuk yang paling mudah ditemukan bukan terletak pada kaki atau tanganku, tapi motor yang “cacat” atau nggak enak dipakai. Hayah!

Tapi ayah tak pernah melarang. Ayah justru memberikan solusi.

Saat aku bilang pada ayah bahwa aku sudah bisa “turun ke jalan”, ayah langsung mengurus pembuatan SIM untukku. Saat mengetahui aku terjatuh dari motor, ayah memintaku untuk segera diurut. Saat aku membawa pulang motor yang body depannya rusak parah -terpaksa bilang kalau abis tabrakan karena nggak punya duit buat reparasi *mahasiswikere.com :p- ayah lalu membawa motor itu ke bengkel -lalu memangkas uang jajanku, haha-. Saat ayah mendapati luka di daguku, ayah cuma bilang, “ada-ada aja.” Jiah.. Udah bosen kayaknya ngeliat anaknya jatoh terus, hehe..

Tapi tak lama setelah itu, ayah mulai menusukku dengan petuah2nya. “Kamu kalo pulang nggak usah ngelawan arus lah. Lewat UP aja. Paling bedanya cuma 10 menit,” katanya. Gang menuju rumahku bisa dibilang memang agak nanggung. Letaknya sekitar 100 m dari jalan untuk memutar arah tujuan. Maka, untuk alasan menghemat waktu dan bahan bakar, aku -dan yang lain- memilih untuk melawan arus saja. “Berisiko,” tambah ayah. “Udah kamu harus motong jalan, ngelawan arus, belum lagi kalau ditilang polisi. Mending ambil rute yang jauh dah, tapi aman. Kalo motor ketabrak kan fatal akibatnya, Ai. Beda sama mobil.”

Kata2 ayah itu masih kuingat jelas. Dan malam ini, sepulangnya dari mengajar, meski godaan untuk ambil jalur cepat membuatku mulai berhitung kembali, pada akhirnya aku mengikuti saran ayah. Bukan hanya lebih aman, tapi menimbulkan rasa nyaman di hati. Ayah pasti senang.

***
di balik 3 jendela,
6 Maret 2012 pk. 23.34 wib
moga berlaku juga untuk malam2 selanjutnya :p

27 responses

  1. Ai jangan sepelekan jatuh jatuhan ya hehe.. Kalo jatuh baiknya bener kata ayahmu kudu langsung ditangani semisal diurut.. Kakakku dulu jatuh tapi gk blg2 bertahun2 dia cuek taunya ada tulang yg membusuk di tulang belakangnya hampir lumpuh. Dua ruas diambil, skrg alhamdulillah dah sehat tapi tetep ada yg beda🙂 bukan nakut2in tapi sama2 ngingetin hehe

  2. @mba faramampir lagi yaa. Hehe..@mba niahwaaa… Duh, duh, iya serem.. Tapi aku masih takut diurut -.-a*mulai berpikir ulang@ziyyiyaa.. Kemarin itu meski pulang lebih lama dari waktu yang biasanya, tapi rasanya nyaman banget. Tenang jadinya🙂

  3. @om heniyaa. Dan seringkali anak kurang mengerti :p@diahaku juga curiga. Pantes aja mendadak sapi mau ngejemput diah. Bukannya bareng aku? Pikirku. Hahaha… Makasih yaa. Sejujurnya saat itu aku pun merasa tenang :pkaki kiri belum bisa ditekuk2 soalnya.@mba jarberencana tobat dari kenakalanku kok mba ^^byang itu udah sembuh, tapi yang ini belum. Halah.. *Baca postingan sebelumnya ^^v

  4. walah…Ai..ai…Jatuh kok sering..(sama kayak si doi tuh, udah berapa kali jatuh, ya tetep aja ngebut….resiko pengendara katanya… ya..ya…aku cuma bisa jewer kupingnya..hihi)

  5. Wah, mba yul lebih galak dibanding ayahku. Ayah aja gak pernah jewer kupingku. Wkwk…kadang, kita, para pengendara, mah bilangnya gapapa. Tapi orang2 terdekat yg justru khawatir. Alhamdulillah yah masih diperhatiin :p

  6. Setelah kuanalisa *tsaahmasalahnya adl aku suka sok paham dengan medan yang baru, vi. Hehe… Bahwa ternyata nggak semua jalanan sama kayak yang biasa kulewati ^^”*tapi kalo yg ‘kemarin’ itu mah ditambah faktor motornya juga :p

  7. Ati-ati ya, Ai :)Jatuh itu sakit, kadan bikin trauma dan segan. Makanya, bangkit lagi itu hebat. Aku termasuk yg enggan bw motor. Kebanyakan trauma selain faktor SIM dan dilarang ibu, sih, hehe. Eh justru itu ya yg penting ya :p

  8. @dyas”ayahku nomor satu di dunia”eh, itu ayahku! He’s the best! Hoho…@diahbaguslah :p@om iqbalkapok minjemin motor lagi? :))@mba novsedikit trauma sih. Sekarang kalo liat kerikil di jalan agak2 gimana gitu. Tapi kalo saat jatuh itu aku trauma, bisa2 ga pulang2. Motornya gak ada yg bawa :p

  9. Aiii…. Hati-hati ya chayank :)Tapi, memang Ayahmu itu keren deh… InsyaAllah cerita-cerita tentang Ayah yang ada dalam bukumu itu, sekarang pasti sudah dinikmati oleh anak-anak di sekolah Master Depok🙂

  10. akuai said: @dyas”ayahku nomor satu di dunia”eh, itu ayahku! He’s the best! Hoho…

    ayahku, lah yang nomor 1 satu dunia!enak ajaaahhh…*kemudian berantem, pukul2an… jaman sd banget -___-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s