Kekhawatiran Ayah

Kadang, aku seolah menangkap kekhawatiran ayah ketika melihat anaknya tumbuh menjadi seseorang yang tak seperti perempuan pada umumnya. Mungkin ada benarnya pernyataan yang kutemukan dalam novel Rose karya Sinta Yudisia,

“Sebetulnya, ditinggal ayah atau ibu selamanya, sama saja buruknya. Ditinggal ayah kehilangan pegangan, ditinggal ibu kehilangan teladan. Beberapa teman perempuanku yang tak memiliki ibu, tak punya sense perempuan. Tidak sensitif, tidak peka. Penampilannya masih feminim, tapi sifat keperempuanan mereka nyaris hilang.” -hal. 32

***
Ruang Tengah,
30 Maret 2012 pk. 18.43 wib
Lalu menatap wajah ayah yang mulai layu. Ah, kau sudah tua, Yah!

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s