Harga Diri

Jangan kau kira, harga diri seorang wanita lebih tinggi, lebih mulia dibandingkan harga diri pria. Kau salah, Bu! Baik pria maupun wanita, sama-sama punya harga diri, meski dalam rupa yang berbeda. Bahkan kupikir, harga diri mereka bisa jadi lebih tinggi ketika telah menyandang predikat qawwam.

Maka, adalah salah ketika kau meninggikan suaramu di hadapannya. Ah, bahkan kau membentaknya di depan umum. Lihatlah berapa pasang mata yang melihat aksimu itu. Mungkin tak banyak, karena jalanan pun sepi kala itu. Tapi mungkin kau terkaget-kaget dengan tanggapan yang diberikannya: matanya membelalak, otot-otot kekarnya menegang. Apakah lelakimu itu merasa malu? Entah. Yang pasti saat itu harga dirinya telah kau rendahkan.

Aku tentu tak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Aku tak ingin menjadi penonton bagi sepasang suami istri yang bertengkar di pinggir jalan. Kupikir, itu juga yang diinginkan bayi dalam gendonganmu. Mungkin analisa yang kubuat terlalu dangkal. Bahwa apa yang terjadi setelahnya bisa jadi tampak menyeramkan. Dia, yang satu langkah berjalan di depanmu, akan berbalik dan membentakmu. Bahkan tak tanggung-tanggung, dia mungkin saja akan menamparmu.

Hanya, jika suamimu adalah seorang lelaki yang shalih, semua dugaanku itu pastilah takkan terjadi. Harga dirinya mungkin akan terlukai, tapi ia justru akan meredam amarahmu. Dia tahu betul bahwa saat itu kau hanya butuh untuk didengar -meski mungkin tak seharusnya kau meninggikan suaramu. Menunjukkan amarah padamu takkan menyelesaikan masalah. Dia pun sadar bahwa harga dirimu tetap harus ditinggikan meski dia punya kuasa lebih atasmu.

Lantas, kenyataan seperti apa yang kau hadapi, Bu? Kuharap bukan airmata duka yang mengiringi sikapnya padamu. Semoga saja.

***
di balik 3 jendela,
17 April 2012 pk. 07.17 wib
mencoba mengikat makna potret jalanan kemarin siang ^^v

–gambar dari sini

26 responses

  1. Alhamdulillah, kaga’ pernah brantem2an di depan umum. Kalau dah nikah… 3 bulan pertama masih manis2nyah, lewat dari itu dah mulai banyak konflik.. Kadang hal kecil bisa bikin diem2an. Tapi sampai detik ini, selalu Diah duluan yang minta maaf. Kaga’ kuat ngambeg lama2, brasa dosa gede banget. Meskipun sering diulang ngambegnyah :p. Dan yang harus kita jauhi, semarah apapun kita saat itu adalah mudah berkata cerai atau minta cerai, seremmmm..

  2. @ivoniezahraiyaa mba. ini juga ngeliatnya asal lalu aja, pas sang istri ngomong ke suaminya dengan suara yang meninggi. wews..@luvummiuhuuuy.. istri shalihah XD@mylathiefmaka, ada yang geje komennya :D@cawahmoga kita bisa lebih peka melihat sekitar dan memetik banyak pelajaran ^^b

  3. luvummi said: Kadang hal kecil bisa bikin diem2an. Tapi sampai detik ini, selalu Diah duluan yang minta maaf. Kaga’ kuat ngambeg lama2, brasa dosa gede banget. Meskipun sering diulang ngambegnyah :p.

    gue banget….:)))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s