Sekoteng di Malam Minggu

Ting.. Ting.. Ting…

Bunyi suara mangkuk yang beradu dengan sendok begitu khas terdengar dari luar rumah. Sebentar lagi pedagang sekoteng dengan gerobak yang dipikulnya akan melewati rumahku.

“Mau sekoteng nggak, Yah?” tanyaku pada ayah yang sedang menonton berita di televisi.
“Boleh,” jawab ayah singkat.

Aku lalu ke luar rumah dan menemukan sang pedagang telah melewati rumahku. “Pak, beliii! seruku. Aku tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra, suaraku dapat dengan mudah terdengar olehnya. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Jalanan tampak sepi. Hujan yang baru saja mereda mungkin menjadi salah satu penyebab malasnya remaja dan anak kecil untuk bermain di luar rumah.

Pedagang sekoteng itu telah berbalik dan kini telah berdiri di gerbang kecil rumahku. Aku memintanya untuk sejenak menunggu. Aku mau mengambil gelas dulu. Sebenarnya bisa saja memakai mangkuk yang sudah disediakan pedagang itu. Tapi karena khawatir ia lama menunggu kami menghabiskan sekotengnya nanti, aku memutuskan untuk menggunakan gelas dari rumah saja. Bukankah waktu yang harusnya dipakai untuk menunggu bisa ia gunakan untuk berkeliling kampung?

“Baru beli lagi nih, Mbak,” sapanya ketika aku menyodorkan dua gelas kosong untuk diisi sekoteng hangat. Oh, ternyata ia adalah pedagang sekoteng langgananku. Pantas saja ia ingat kapan terakhir kali aku membeli dagangannya. Bapak itu, dengan kerutan yang mulai tampak di wajahnya, begitu senang saat ada yang membeli dagangannya.

“Dagang sekarang bikin pusing, Mbak!” katanya memulai obrolan. Bapak itu memang senang bercerita sambil menyajikan sekoteng yang dijualnya. Sebelumnya ia mengeluhkan jumlah pembeli yang berkurang dari waktu ke waktu. “Kalau dulu aja rumah ini bisa membeli sampai lima mangkok,” katanya.

“Yah, mau bagaimana lagi, Pak? Rumah saya juga memang sudah sepi sekarang. Kakak-kakak saya yang sudah berkeluarga kan nggak tinggal di sini lagi. Ibu juga udah nggak ada. Jadi kalau belipun, paling banyak yaa cuma dua, buat saya dan ayah saya.” paparku.

Kenangan yang dibawa pedagang sekoteng itu turut serta menghadirkan memori di masa lalu bersama keluargaku. Teringat masa-masa ketika kami berkumpul bersama di ruang tengah untuk menyantap jajanan di malam hari yang lewat depan rumah, salah satunya sekoteng. Sembari menyantap minuman hangat itu, kadang ibuku melempar tebak-tebakan.

“Sekoteng pake es, nggak?” tanyanya. Aku saat itu dengan yakinnya menjawab, “Yaa nggak lah, Ma. Masa’ pakai es?” Pikirku saat itu, minuman hangat tentu saja tanpa es batu yang akan membuatnya dingin. Tapi ibu langsung mengoreksi jawabanku. “Yaa pakai dong! Kalo nggak pake es jadinya ekoteng,” katanya sambil tertawa. Hayaaah.. soal membuat guyonan di keluarga kami, ibuku ini memang jagonya.

Pacar cina, kacang, kolang-kaling, potongan roti, dan susu sudah dimasukkan ke dalam gelas. Tinggal menyiramnya dengan air jahe maka sekoteng sudah dapat dihidangkan. “Kalau sekarang mah nggak kayak dulu..” ujarnya. “Sekarang dagangan baru habis jam dua malam, setelah saya berkeliling kesana-kemari. Nih, lihat, masih banyak,” tambahnya sembari menunjukkan kuali berisi air jahe yang masih cukup banyak.

Aku jadi penasaran sejak kapan bapak yang tak kuketahui namanya ini memulai usaha tersebut. “Memang sejak kapan berdagang sekoteng, Pak?”

“Wah, udah lama, Mbak. Dari tahun 1991.”

Hmm.. Bahkan ia sudah berjualan sebelum aku menempati rumah ini. Lama juga yaa.

“Dulu saya datang ke Jakarta saat usia pernikahan baru dua bulan.”

Aku lantas teringat obrolan dengan pedagang itu saat terakhir kali membeli sekotengnya. Ia bercerita tentang anak-anaknya yang kini sudah bekerja dan ada pula yang sudah berkeluarga.

“Memang asli mana, Pak?” Rasa penasaranku pun berlanjut.

“Panarukan.”
“Wah, jauh juga yaa..”

Obrolan kamipun berakhir seiring dengan uang kembalian yang kuterima darinya. Semangkok sekoteng itu dijualnya dengan harga Rp 5.000. Entah berapa keuntungan yang ia dapat sehari-harinya. Saat aku menceritakan kisah pedagang itu kepada ayah, ia hanya berujar, “Sesekali kita memang perlu membeli jajanan dari pedagang-pedagang kecil seperti itu, karena yang kita beli itu akan jadi tambahan rezeki buat dia.”

***
di Balik 3 Jendela,
21 April 2012 pk. 09.59 wib
belajarlah dari perjuangan hidup mereka, Ay!

*foto pertama diambil dari sini

29 responses

  1. Nice shareKalau di rumah kakak di pondok gede, kami suka beli sekoteng, enak anget-anget pedes (jahe) ;)Entah kenapa cepet banget angetnya ilang :DTerus, para bocah akan ikut-ikutan maemin sekotengnya😀

  2. Foto sekotengnya menggiurkan Ai :)Kak Rien juga suka dgn minuman ini, tapi sayangnya ga ada penjual yg keliling dekat rumah. Kalau sedang ingin, mesti pergi ke pusat2 jajanan.Ditempat kk, pedagang2 kecil/keliling tak dibiarkan berkeliling dari cluster ke cluster, apalagi masuk kawasan perkantoran. Tapi mereka dibuatkan tempat khusus utk berjualan dibeberapa tempat yg telah disediakan. Pihak RE dan pengelola yg mengatur hal ini, ga cuma bertujuan agar pedagang kecil jadi tertib, tapi jg memberi peluang laku lbh banyak bagi mereka. Selain tempat yg bersih, teratur, dan ter”manage” dgn baik, pengunjung jg dipastikan selalu ramai karena disini tak lagi keliatan mana yg pedagang kecil dan pedagang besar, semua sama. Sehingga si pedagang kecil tak lagi berjualan untuk ”pembeli kecil” saja🙂

  3. akunovi said: Nice shareKalau di rumah kakak di pondok gede, kami suka beli sekoteng, enak anget-anget pedes (jahe) ;)Entah kenapa cepet banget angetnya ilang :DTerus, para bocah akan ikut-ikutan maemin sekotengnya😀

    dulu aku gak habis kalo beli semangkok karena gak tahan pedas jahenya. tapi memang setelah minum sekoteng badan jadi hangat.🙂

  4. azizrizki said: slalu haru dengan seorang “ayah” yang membanting tulang utk keluarganya

    iyaa. ayah hebat adalah ayah yang bertanggung jawab. yang gak lupa dengan tugasnya untuk mencari nafkah meski ia sudah tua. berbahagialah kita, ki🙂

  5. sahabatmentari said: klo aku gak bisa dapet beginian.. rumahku di pojok..jadi pas denger ting2 dan manggil pasti abangg penjual bingung..ada suara tapi gak ada oranggnya..😀 dan biasanya mereka pergi bgitu saja..

    disamperin atuh kak.. cegat abangnya sambil bawa mangkok. hehe..

  6. dyasbaik said: kalo di purwokerto, namanya wedang ronde.kalo lagi butuh ‘bicara’, abah biasanya ngajak ke alun-alun bwt makan (minum?) ini

    owh.. wedang ronde tuh pake isian yang sama kayak sekoteng gini yaa yas? ^^aiya, sambil makan sekoteng, sambil kumpul keluarga n bicara dari hati ke hati. tsaaah😀

  7. rifzahra said: Udah lama gak makan sekoteng…keknya ga pernah liat yg lwt dpn rumahku, ay (⌣́_⌣̀)

    biasanya makan di mana? kalo di rumah hampir tiap hari pedagangnya lewat🙂

  8. katerinas said: Foto sekotengnya menggiurkan Ai :)Kak Rien juga suka dgn minuman ini, tapi sayangnya ga ada penjual yg keliling dekat rumah. Kalau sedang ingin, mesti pergi ke pusat2 jajanan.Ditempat kk, pedagang2 kecil/keliling tak dibiarkan berkeliling dari cluster ke cluster, apalagi masuk kawasan perkantoran. Tapi mereka dibuatkan tempat khusus utk berjualan dibeberapa tempat yg telah disediakan. Pihak RE dan pengelola yg mengatur hal ini, ga cuma bertujuan agar pedagang kecil jadi tertib, tapi jg memberi peluang laku lbh banyak bagi mereka. Selain tempat yg bersih, teratur, dan ter”manage” dgn baik, pengunjung jg dipastikan selalu ramai karena disini tak lagi keliatan mana yg pedagang kecil dan pedagang besar, semua sama. Sehingga si pedagang kecil tak lagi berjualan untuk ”pembeli kecil” saja🙂

    maklum, kak rien.. rumahku ini ada di pemukiman padat penduduk dengan gang-gang sempitnya yang khas. jadi hampir sebagian jajanan dijajakan secara keliling :)wah, bagus tuh konsepnya, memajukan pedagang kecil🙂

  9. nisachem05 said: aq masa ga pernah beli sekoteng slama drumah.pernah beli pas djogja n dsemarang..#terinsirasibuatbeli

    lewat rumahku kah nis? coba aja beli trus ngobrol2 sama abang penjualnya, hehe. atau bisa juga jajanan yang lain🙂

  10. BTW, tadi malam ayahku cerita ke adik kalau kami makan sekoteng kemarin malam. Adikku ini nggak ada di rumah karena ikut mabit dari kampusnya. Lagipula, dia juga gak suka sekoteng. Lalu ayah bilang, “Kemarin Si Atun (sebutan ayah untuk mama, maklum ibuku kan endut, hehe) dateng kali yaa? Sekotengnya bau kamper.”Ayahku aya aya wae. Apa hubungannya kamper dan kedatangan mama? Mungkin ayah hanya kangen aja sama ibuku. Hoho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s