Sapa Sahabat

Mungkin aku terlalu percaya diri, bahwa saat ini, dia sedang menantikan tulisan yang kubuat untuknya.😛



“Lo inget ga tahun kemarin kita melakukan apa?” sapanya melalui Whatsapp siang kemarin. Diajukan pertanyaan mendadak seperti itu membuatku berpikir sejenak untuk mengingat memori setahun silam. Ada begitu banyak momen bersamanya, tapi yang ia maksud yang mana? Tak mungkin bila aku harus berkata “Nggak ingat” atau “Yang mana yaa?” Maka, akupun memancingnya dengan bertanya, “Di tanggal ini?”

“Iya,” balasnya cepat. ” Eh, beneran tahun kemarin kan yaa? Kita hang out. Hahaha. Sampai gw bikin tulisan blognya.”

“Yang waktu kita muter2 di FIK n FKM itu?” tanyaku lagi. Aku berharap apa yang kuingat sejalan dengan memori kenangan yang kini diputarnya kembali. Jika tidak, mungkin ia akan sedih. Bertepuk sebelah tangan itu nggak enak, kan?

“Iya. Bikin tulisan nggak lo hari ini?”
“Mau gw bikin tulisan tentang lo, nggak? Hehe.”
“Hehehe. Lucu banget pakai nawarin gitu.”

Dan akhirnya inilah tulisan~ke sekian~ku untuknya
Untuk Ludi, sahabatku..

Sebenarnya hal pertama yang terpikir saat Ludi menyapaku siang itu adalah bukan tentang jawaban atas pertanyaannya. Sederhana saja. Saat Ludi mengirimkan pesan padaku, entah melalui SMS atau whatsapp, itu pertanda bahwa ia sedang berada di daerah dekat sinyal. Mungkin di kota. Atau bisa juga di “tanjakan” yang terletak delapan ratus meter dari tempat tinggalnya. Bagi yang belum tahu, Ludi ini adalah Pengajar Muda dari program Indonesia Mengajar. Saat ini ia bertugas di Muara Enim, Sumatera Selatan. Sebelumnya, Ludi merupakan perwakilan IM di Aceh Utara, tetapi karena situasi di Aceh saat ini kurang kondusif, maka ia dan kawan-kawan PM Aceh Utara dipindahtugaskan.

Awalnya aku tak menyangka bahwa untuk mendapatkan sinyal saja, ia harus berjalan sejauh itu. Baru tersadar ketika aku mengirimkan SMS ke beberapa orang, termasuk Ludi, tentang ajakan mengikuti program earth hour beberapa waktu silam. Ludi baru membalas keesokan harinya. “Di sini listriknya cuma 5 jam sehari. Perlu matiin juga jam segitu? :P” Hingga akhirnya obrolanpun berlanjut seputar kondisi di sana. Dan Ibu Guru Ludi yang hebat, di tengah kesulitan sinyal dan jajanan semisal riche*s serta m*mogi -hehe- masih memikirkan nasib anak didiknya. “Di sini nggak ada toko buku. Bayangin, berarti kan mereka nggak akan bisa beli buku. Padahal mereka bisa tahu banyak hal dari sana. Cari teman yang mau nyumbang buku dong!” pintanya.

Ayo kirimkan buku bacaan untuk anak pelosok Muara Enim beserta pesan semangat darimu ke PO BOX 1113 Muara Enim 31300 ^^b

Oya, yang paling menyenangkan adalah saat membahas mimpi bersama Ludi. Dulu, kami sempat merencanakan trip Jakarta-Lombok di bulan Juni nanti. Dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, salah satunya jika salah satu dari kami ada yang menikah, maka rencana itu batal. Pada akhirnya, rencana ke Lombok di bulan Juni itu memang tak bisa terlaksana. Tapi bukan karena salah satu di antara kami ada yang menikah, haha . Bulan Juni nanti ternyata Ludi masih disibukkan dengan kegiatan IM.

Tapi kita masih memiliki mimpi-mimpi lain yang ingin kita wujudkan, iya kan, Di? Dan semoga langkah kita takkan terhenti hingga kita mampu meraihnya. SEMANGKAAAA….!

***
Ruang tengah,
22 April 2012 pk. 13.13 wib
Dan masih tersenyum karena postingan lo yang ini

*foto dari Mbah Gugel ^^v

24 responses

  1. ehm baiklah gw komen lagimakasih ya i. gw paling takjub pas dibilang “sahabat”. itu kata sakral banget buat gw. selama ini gw suka bilang teman dekat. tapi gada yang gw klaim sebagai sahabat. makanya dibilang sahabat oleh orang lain rasanya melayang. hehehetapi fyi, suatu hari gw main tanya jawab pakai lagu sama temen gw. sampai di pertanyaan “siapa sahabat kamu?”, gw jawab “ai”. gw sendiri juga bingung kenapa bukan atikah atau alpiah. temen2 sma gw. gw pilih “ai”and there is no coincidence right?😉

  2. :”>dalam hal pengklaiman terhadap sahabat atau teman dekat, kayaknya kita setipe. gw jugj gak tau knapa jadi muncul kata sahabat. mwahaha #merusakkeromantisanehya, tadinya mau gw sebut saudari. tapi gw inget Rasulullah saw menyebut Abu Bakar dkk-nya sahabat. Jadi dalam hal ini kata sahabat lebih dekat hubungannya😉

  3. @aiyang lebih dekat itu saudari neng.. Kan rasul menyebut generasi yang jauh dari beliau tapi berislam secara kafaah sebagai saudara saudari.. *inget omongan ustadzah keren*.@abangabang SMS Diah dong.. Nomernyah yang mana yaak?:p*hp seringan ngehang jadi nomer pada ilang2an, haha*

  4. luvummi said: @aiyang lebih dekat itu saudari neng..Kan rasul menyebut generasi yang jauh dari beliau tapi berislam secara kafaah sebagai saudara saudari.. *inget omongan ustadzah keren*.

    iya diah.. tapi Rasulullah saw menyebut para sahabatnya itu “sahabat” bukan “saudara”, maksudku bukan ambil sudut pandang kita terhadap Rasulullah saw, tapi aku ingin hubunganku dengan Ludi ini seperti halnya Rasulullah dengan para sahabat beliau *ribet yaa?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s