Kisah Si Pawang Hujan

Aula apung Perpustakaan Pusat UI sudah ramai oleh audiens yang akan menyaksikan dialog interaktif calon gubernur DKI Jakarta. Acara tersebut diselenggarakan oleh UI bekerja sama dengan TV One. Hampir semua bangku terisi penuh. Tampak para kandidat sudah duduk manis di kursi terdepan. Aku lalu mengambil posisi di dekat pintu masuk perpus yang dekat dengan BNI. Berharap nanti kawan yang sebelumnya telah membuat janji untuk bertemu dapat dengan mudah menemukanku.

Sudah hampir pukul dua siang tapi acara belum juga dimulai. Temanku pun mengabarkan kalau ia agak terlambat datang. Ini kampus yang pernah menjadi tempatku menimba ilmu, tapi rasanya aku begitu asing. Hanya satu dua wajah yang kukenal. Selebihnya hanya para mahasiswa dengan gadget canggih yang duduk di kafe mahal di lantai dasar perpustakaan nan megah itu.

"Gue udah di perpus, nih. Lewat pintu yang berseberangan dengan panggung," terang temanku lewat telepon. Baiklah, aku lantas melewati kerumunan orang-orang dan mendapati seorang gadis berjilbab biru tampak sibuk menengok ke sekeliling sambil mendekatkan telepon genggam ke telinganya. Satu persatu para kandidat mulai menjawab pertanyaan yang diajukan panelis sesuai tema yang didapat dari hasil undian sedangkan kami sibuk mencari tempat duduk. "Capek kali kalo berdiri," katanya.

Satu jam berlalu. Langit yang tadinya cerah mulai beranjak mendung. Angin sore yang sejuk menyapa kami dengan lembut. Ah, kau ingat, aku menyukai angin yang berhembus di kala senja, yang menggoyangkan pepohonan di tepi danau dengan daun majemuknya yang menjuntai-juntai.

"Tenang, nggak bakal hujan, deh!" kata temanku, seolah menangkap kegelisahan para kandidat yang beberapa kali memandang ke arah langit Depok. "Percaya nggak lo, acara ini pake pawang hujan lagi."

"Iya, gitu?" tanyaku. Tak terpikir olehku kalau acara itu akan menggunakan jasa pawang hujan untuk melancarkan acara mereka. Memang, risiko acara outdoor adalah hujan yang tak dapat diprediksi kapan turunnya. Meski hati kecilku ingin melihat calon orang nomor satu di Jakarta itu hujan-hujanan seperti anak kecil.

"Percaya, nggak? Pawang hujan itu emang ngaruh juga loh! Serius gue!" katanya, meski aku tak benar-benar menganggapnya serius. "Haha.. Gue jadi musyrik yaa? Tapi emang seringnya berhasil loh!"

Tes..

Kurasakan satu dua tetes rintik hujan menerpa kulitku. Dan kami masih asyik berbincang tentang pawang hujan dan "kesaktian"nya. Tak lama, hujan benar-benar turun, meski berupa rintik-rintik.

"Sayangnya, keimanan yang udah lo gadaikan sia-sia neh," candaku.

"Iya, nih, parah. Kok bisa gagal gitu yaa?"

"Dekat masjid sih acaranya. Kurang kuat merapalnya. Jadi di sini pengen hujan berhenti, tapi orang-orang di masjid berharap dapet keberkahan dari hujan yang turun. Hehe.."

"Dipecat deh tuh pawang hujan."

"Trus gimana tuh, dibayar nggak?"

"Paling dapet DP dulu. Cuma nggak dapet successfull fee aja."

"Oh…"

Hujan masih mengguyur kampusku nan hijau. Para kandidat dan panelis berpindah tempat ke bawah pohon yang rimbun. Obrolan tentang pawang hujan tak berlanjut lagi. Hanya berharap hujan yang turun sore itu membawa keberkahan di muka bumi.

***

Commuter Line,

28 April 2012 pk. 18.30 wib

Mengikat makna kemarin sore😉

36 responses

  1. akuai said: “Sayangnya, keimanan yang udah lo gadaikan sia-sia neh,” candaku.”Iya, nih, parah. Kok bisa gagal gitu yaa?”

    jawaban: kok bisa gagal gitu yaa?tambah bikin parahpadahal ud disindir. heuaudzubillah. kadang masalah aqidah samar beud yak😦

  2. @faraziyyawallahua’lam. saat itu aku gak terlalu serius menanggapinya. dia paham lah sebenernya.tapi bener tuh ziyy, kadang emang tipis beut pemisahnya. waktu kecelakaan di kalimantan itu, temanku refleks bilang, “tadi kepengen bakso”..

  3. jadi inget malem terakhir pas Diah belon nikah *halah bahasanyah*..Diah kan mo keramas tuh, masa’ dilarang sama sodara2. Katanyah ntar hari H jadi ujan.. Diah jawab ajah..”kalau ujan mah karna kehendak Allah, bukan Diah. Kalo Allah bilang jangan ujan, ya kaga’ bakal ujan.” eh bener, besokannyah kaga’ ujan, hehe..

  4. hehe, lanjut, vi. tinggal sesi pertanyaan dari kandidat yg satu ke yg lain. tapi justru pas mereka berdekatan di bawah itu suasananya jadi lebih akrab. kecuali Foke yg bahkan gak dianggap kandidat sama mereka saking jarangnya ketemu pas acara serupa. haha..

  5. @luvummikalo acara nikahan gitu banyak versinya, di. tapi aku malah jadi inget cerita A’nuri waktu ngobrol sama salah satu pemain rebana pas nikahan kak rima.katanya, “biar gak ujan, ambil kodok, ikat kakinya di atap rumah, nanti gak turun deh!””gak turun ujannya?” tanya abangku.”kodoknya.”:))

  6. @luvummikalo acara nikahan gitu banyak versinya, di. tapi aku malah jadi inget cerita A’nuri waktu ngobrol sama salah satu pemain rebana pas nikahan kak rima.katanya, “biar gak ujan, ambil kodok, ikat kakinya di atap rumah, nanti gak turun deh!””gak turun ujannya?” tanya abangku.”kodoknya.”:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s