[JourneyToBandung] Perjalananku, Perjalanan Kita

Di depan loket Stasiun Bandung. Aku harus mengambil keputusan dengan segera: beli tiket seharga delapan puluh ribu itu atau berikan kepada calon penumpang yang lain. Lima belas menit lagi kereta Argo Parahyangan akan melaju meninggalkan Kota Kembang itu. Hanya tersisa satu tiket untuk kelas eksekutif sedangkan di belakangku berdiri seorang anak muda yang siap mengambil tiket emas itu. “Ambil, nggak, Ay?” tanya Rifi. Baiklah, sekali-kali naik kereta kelas eksekutif boleh juga, batinku menyenangkan hati. Maka, saat aku berpisah dengan Mba Novi dan Ziyy, kukatakan pada diriku: Nikmatilah!

Kulayangkan pandangku melalui kaca jendela
Dari tempatku bersandar seiring lantun kereta

Dalam gerbong ber-AC yang nyaman, aku terkenang perjalanan selama tiga hari bersama mereka, kawan yang kukenal awalnya lewat dunia maya.

Saung Angklung Mang Udjo
Lepas menyantap ayam cobek plus kol goreng di dekat perempatan Jl. Cihapit, kami bergegas menuju Saung Angklung Mang Udjo. Mendung yang sudah menyapa kami siang itu akhirnya melahirkan butir-butir hujan saat kami baru saja menyusuri jalan menuju lokasi pertunjukan angklung tersebut. Ini adalah hujan pertama yang datang sejak kami menjejak Bandung yang sejuk. Satu, dua, sepuluh, seratus. Aku menghitung langkah-langkah kakiku, lalu mencoba mengonversikannya ke dalam meter dengan ilmu kirologi. Entah apa yang dilakukan yang lain saat itu. Aku hanya bisa menatap punggung ketiga temanku yang selalu menarik untuk diabadikan dalam kamera ponselku. *bukan berarti wmoajah kalaian tidak menarik, kawan! Haha.

Hampir pukul tiga sore. Rifi kemudian memesan empat tiket masuk pertunjukan yang akan dimulai setengah jam kemudian. Aku berdiri memandang sekeliling. Tak perlu repot mengeluarkan Rp 60.000 untuk membayar tiket tersebut karena setibanya kami di kost Rifi, Mba Novi berinisiatif untuk mengumpulkan uang kami dalam satu dompet. Nantinya, uang itu akan dipakai untuk membayar angkot, makan, serta tiket pertunjukan. Terus terang, baru pertama kali aku menemukan kawan perjalanan yang menggunakan metode ini.

Satu persatu penonton mengisi kursi kayu yang mengitari panggung. Cukup banyak turis yang hadir saat itu. Ya, rasanya sayang jika ke Bandung tapi melewatkan Saung Angklung Udjo sebagai salah satu tempat wisata budaya yang akan dituju. Dan decak kagum serta tubuh yang merinding beberapa kali mewarnai pertunjukan seni yang utamanya untuk memperkenalkan angklung sebagai alat musik warisan budaya Indonesia itu. Ah, rasanya beruntung sekali melihat betapa ceriwisnya anak-anak kecil dalam pertunjukan helaran, saat para seniornya uji kemampuan dengan memainkan angklung hingga tercipta musik orkestra yang indah, dan yang paling menyenangkan tentu saja saat tiap penonton berkesempatan memegang dan belajar memainkan angklung. Hanya satu pertunjukan yang menurutku kurang cocok ditonton anak-anak, yaitu pertunjukan wayang golek. Terlalu banyak kekerasan yang diumbar di sana.

Tak terasa dua jam sudah kami menikmati pertunjukan di Saung Angklung Udjo. Bergegas kami melaju bersama angkot biru menuju Geger Kalong. Daarut Tauhid adalah tujuan kami selanjutnya. Di sanalah kami bertemu Mba Yuni yang sudah lebih dulu sampai. Lepas shalat isya di Masjid DT, kamipun makan malam bersama sambil berdiskusi tentang Sekolah Rabbani yang dirintis oleh Hesti, Flo, dkk. Aku memilih untuk tak banyak vokal kala itu. Dalam hati merasa teramat malu dan berpikir, “Apa yang sudah kulakukan selama ini?”

Piring dan gelas sudah kosong tak berisi. Beberapa meter lagi kami akan kembali ke Masjid Daarut Tauhid. Tapi suara kami pecah antara ingin kembali ke kosan Rifi atau mabit di DT. Akulah yang awalnya mewacanakan untuk singgah di DT, terlebih karena malam itu ada kajian bersama Teh Ninih dan Oki Setiana Dewi. Tapi aku pulalah yang kemudian meragu. Mabit atau tidak?

..bersambung..

20 responses

  1. Dr stasiun naik angkot St.Hall-Sadang Serang turun di pusdai, dilanjut naik angkot Ledeng-Cicaheum ke arah Cicaheum, bilang aja mau ke Saung Udjo, turunnya di Padasuka. Oia, naik angkotnya dr Stasiun bagian belakang ya.Perasaan waktu itu ai nyatet deh…hehe

  2. @ nisa : iya miss, lbh tepatnya komunitas Hong itu ada di daerah Ciburial, Dago Atas. Aku smpt lihat karya2 alat musik n permainan tradisional mereka di Festival Bambu Nusantara bbrp bulan lalu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s