[JourneyToHospital] Cattleya 108

Gol A Gong dalam buku Travel Writer menganjurkan bagi seseorang yang ingin menjadi penulis perjalanan untuk melakukan petualangan setiap bulan, bahkan bila perlu dua minggu sekali. Kalau diingat-ingat, sejak Desember tahun lalu, aku pun telah melakukan saran tersebut, meski niatnya bukan untuk menjadi travel writer. Mimpi sederhananya, hingga Juni nanti aku memang ingin melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain, minimal sebulan sekali. Gorontalo, Bontang, Balikpapan, Bandung, ah, senangnya ketika bulan demi bulan terlewati dengan berpetualang. Jalan-jalan pada akhirnya menjadi semacam candu. Membuatku kemudian memikirkan rencana perjalanan selanjutnya, “Bulan depan mau ke mana yaa?”

Nyatanya, bulan ini aku nggak bisa kemana-mana. Rencana ke Jogja awal bulan batal Rencana ke Tasimalaya atau fun hiking pun tak ada kabar. Jalan-jalan sendirian? Hmm,, kemana yaa?? Akhirnya selama seminggu aku malah bolak balik ke Ruang Cattleya kamar no. 108 di RS Bhakti Yudha Depok. Siapa yang sakit? Yang pasti bukan aku, tapi ayah. Alhamdulillah aku mah baik-baik saja

Sejak sebulan yang lalu ayah mengalami “salah urat” di bagian punggung-pinggangnya. Awalnya sakit pinggang biasa, tapi setelah diurut beberapa kali sama “ahli” tukang urut, akhirnya malah makin parah dan nggak sembuh-sembuh. Sayangnya, ayah punya sedikit trauma dengan rumah sakit. Ayah paling nggak suka kalo diminta untuk rawat inap di sana. Tapi demi kesembuhan ayah, dilakukan serangkaian paksaan agar ayah mau ke rumah sakit. Fyuu~h!

Tapi, setiap pelajaran pasti harus ada hikmah yang dipetik dong! Dan alhamdulillah, aku mendapatkan banyaaaak banget hikmah dari sakit yang diderita ayah tersebut. Aku belajar untuk lebih bersyukur, memahami perasaan orang lain, nggak egois, dan satu hal yang menarik adalah, aku berdamai dengan sifat sok tegar yang seringkali kutunjukkan.

“Aku nggak suka dengan banyaknya perhatian,” kataku pada adik menyusul keenggananku untuk mengabarkan berita sakitnya ayah pada teman-teman. Bukannya GR, tapi seringkali perhatian itu memang datang begitu saja tanpa diundang. Aku tak ingin diganggu. Tapi aku juga khawatir tak mampu membalas perhatian yang mereka layangkan untukku. Maka, biarlah aku menyimpan berita tak membahagiakan ini, pikirku. Dan setelah mendapatkan “omelan” dari beberapa orang,a khirnya aku luluh juga

Berikut sedikit foto kenangan dalam perjalananku selama seminggu di rumah sakit

menikmati senja pertama di rumah sakit

supermoon?
keterbatasan kamera membuat fotonya tak seindah aslinya -__-“

ayah saat sedang menjalani fisio-therapy
dan aku yang tiba-tiba kebanjiran ide nulis #teteup

sssttt.. jangan bilang-bilang!
ayah seringkali nggak mau minum obat, dengan berbagai alasan. Hmmpf!

terima kasih, suster!

tak lagi di Cattleya 108,
13 Mei 2012 pk. 01.00 wib
Bulan depan, izinkan aku ke Sumatera. Yaa? Yaa?

One response

  1. hoooooooo.. pantes.. Ai selalu gitu.. hheheheiya.. sama.. =Dkadang ngerasa ga bisa bales perhatian yang serupa.. jadi disimpen sendiri.. sekarang ayah gimana? dah pulih bener? ato?tenang Ai.. aku ga minta diperhatiin koq.. =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s