[Nogu Story] Kesempatan Pendidikan Tinggi untuk Orang Kaya (Saja)

Safir Senduk, dalam sebuah talk show di televisi, mengatakan bahwa kunci kemakmuran dan kesejahteraan seseorang dalam hal finansial mencakup tiga hal: bekerja untuk aset, atur pengeluaran dengan baik, dan mempersiapkan dana untuk masa depan. Terkait dana masa depan ini, ia menekankan salah satunya untuk pendidikan anak kita nanti. Aku masih ingat jelas apa yang ia sampaikan. Katanya, “Akan sangat menyedihkan ketika anak-anak kita memiliki mimpi, tapi harus terhenti hanya karena biaya yang tak dipersiapkan sejak awal.”

Maka, wajarlah jika orang-orang kaya itu memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengecap pendidikan tinggi..

Di jurnal nogu story sebelumnya, aku bercerita tentang muridku yang ingin masuk Fakultas Kedokteran. Di antara komentar yang datang, kukatakan bahwa sang murid juga berencana mengikuti ujian masuk STIS. Ketika berbincang dengan muridku di pertemuan yang lain, aku mengetahui bahwa sebenarnya ia sudah mengantongi tiket masuk ke Teknik Mesin, entah lewat jalur apa, tak sempat kutanyakan.

“Trus nanti mau ikut SNMPTN juga?”
“Iya, Kak.”

Wews.. Jangan-jangan SIMAK UI pun akan diikutinya. Yang aku heran tentu saja bukan berapa besar biaya pendaftaran dan persiapan ujian masuk yang harus ia keluarkan. Itu mungkin mudah saja bagi mereka yang berkantong tebal. Aku hanya berpikir, sebenarnya anak ini cita-citanya apa? Kok semua ujian masuk diikuti, beda-beda jurusan pula. “Pengennya sih masuk kedokteran, Kak,” katanya menjawab tanyaku.

Muridku yang lain, hanya mengambil privat untuk pelajaran biologi karena ia merasa kurang paham dengan pelajaran yang satu itu. Tapi jangan salah, ia juga mengikuti super intensif di bimbel lainnya. Asiknyaa… Semangat belajar yang tinggi didukung oleh finansial yang oke. Kalau bagi orang-orang yang nggak punya duit, ketekunan untuk mencari ilmu sendiri-lah yang diutamakan.

“Nanti mau ambil jurusan apa?”
“Arsitektur ITB”
“Nggak mau coba ke UI aja?”
“Itu nanti aja, Kak, lewat jalur SIMAK UI.”

Baiklah, aku hanya tersenyum menanggapi jawabannya. Dalam hati, hari gini kayaknya nggak jaman yaa ambil satu ujian masuk? Ini juga nggak lepas dari komersialisasi pendidikan yang menjangkiti kampus-kampus, tak terkecuali kampus yang dulu dijuluki kampus rakyat *kampus siapa itu yaa? ckck ^^a*

Suatu hari di ruang tutor, Manajer Akademik di bimbelku mengeluhkan murid-murid super intensif SNMPTN yang kurang semangat berjuang menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. “Udahlah, Kak, saya nanti ikut ujian mandiri aja,” kata sang manajer mengutip perkataan muridnya. “Buat apa ikut intensif SNMPTN kalo ujung-ujungnya mau ikut ujian mandiri??” tambah sang manajer kesal. Teringat, sebelumnya, kami pun dibuat “sakit hati” manakala mengetahui malam-malam yang dihabiskan untuk mengajarkan mereka, harus bersaing dengan bocoran soal UN yang membuat mereka bimbang.

Tapi…

Murid-muridku itu masih lebih baik. Ya, lebih baik dibandingkan mereka yang hanya duduk-duduk santai tanpa usaha untuk belajar dan bersaing dengan ribuan calon mahasiswa lainnya. Mereka yang terima beres untuk masuk kampus X setelah menyokong dana sekian puluh juta bagi kampus tersbeut. Dan mereka pun masih lebih baik, dibanding mereka-mereka lainnya yang tanpa merasakan pahit manis bangku kuliah sebelumnya, tapi tiba-tiba saja punya ijasah. Lebih miris lagi, menggunakannnya untuk mendaftarkan diri sebagai calon wakil rakyat.

Sekolah untuk apa? Pendidikan milik siapa? Ah, tak usahlah dipikirkan. Jika tak ingin dahi ini berkerut dibuatnya.

***
di balik 3 jendela,
14 Mei 2012 pk. 12.12 wib
“A genius won’t beat one who works hard. One who works hard, won’t beat the one who is perseveres.” [a quote from K Drama – King of Baking]

20 responses

  1. @justwikjustru si miskin harus punya mimpi itu. bertekad untuk keluar dari kemiskinannya. kalo setelah usaha nanti masih miskin juga, itu namanya takdir. atau dia belum pantas jadi orang kaya. sederhana saja.

  2. akuai said: @justwikjustru si miskin harus punya mimpi itu. bertekad untuk keluar dari kemiskinannya. kalo setelah usaha nanti masih miskin juga, itu namanya takdir. atau dia belum pantas jadi orang kaya. sederhana saja.

    itu dia…usaha…!

  3. Ini yang harus diubah, mindset sekolah – kuliah – kerja, harus diubah menjadi sekolah – wirausaha (sambil iseng kuliah, klo gak juga gpp) – membuka lapangan pekerjaan. Bill Gates aja dapet gelar Doktor dari MIT tanpa menyelesaikan kuliah disana kok..🙂

  4. penjelajahsemesta said: Ini yang harus diubah, mindset sekolah – kuliah – kerja, harus diubah menjadi sekolah – wirausaha (sambil iseng kuliah, klo gak juga gpp) – membuka lapangan pekerjaan. Bill Gates aja dapet gelar Doktor dari MIT tanpa menyelesaikan kuliah disana kok..🙂

    betul betul..mindset orangtua juga sih yang masih berpikir bahwa menyekolahkan anak itu biar nanti bisa balas budi. jadi ujung2nya adalah gimana bisa dapet kerja n menghasilkan uang.

  5. Hehe…suka mikir juga kalo lagi ngajar privat, ni bocah2 ikut les sampe segitunya..Padahal kalo baca sendiri, bahannya udah komplit banget..Lama2 kuliah di Indonesia udah seperti barang ekonomis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s