Gadis di Taman Kota

Seorang gadis duduk di sampingku. Tiba-tiba saja ia menempati kursi yang sengaja kukosongkan. Mengusik kesendirian yang sedang kuciptakan di antara lalu lalang orang di taman kota ini. Tak hanya itu, gadis yang mengenakan pakaian serba biru itu, lagi-lagi dengan tanpa permisi, melontarkan sebuah pertanyaan padaku.

“Apakah kau pernah merasa kehilangan jati dirimu?”

Langit sore di taman kota selalu tampak indah. Rona jingga memantul ke bangku-bangku taman serta pepohonan yang rindang, pertanda sang mentari yang beranjak pulang. Kuletakkan buku yang sedari tadi menemaniku. Kutatap gadis berperawakan tinggi itu, kupikir usianya telah melewati angka dua puluh. Tapi, apa pertanyaannya barusan? Jati diri? Tidakkah pertanyaan itu seharusnya lebih tepat diajukan remaja yang sedang labil? Belum sempat aku bertanya maksud pertanyaannya, ia lantas berbicara lagi.

“Kau tahu,” kata gadis itu sambil ibu jarinya sibuk menggesekkan ujung telunjuknya, “rasanya seperti kau kehilangan arah, tak tahu harus melakukan apa. Kau memiliki mimpi tapi kau mudah goyah. Hidupmu tampak tak menarik. Tak ada capaian-capaian yang membuatmu bersemangat menjalani hidup. Kau pernah mengalaminya? Rasanya hampa.”

Gadis itu menatap kosong ke arah dua bocah kembar yang sedang asyik berrmain ayunan. Tak jauh dari mereka, berdiri seorang ibu yang membawa tempat makan plastik yang kuduga berisi potongan sosis goreng sebagai camilan untuk menemani kedua putrinya bermain. Ah, memandang wajah polos kedua bocah itu, harusnya mampu menjawab tanya sang gadis: semakin dewasa, seseorang tak lagi dapat bermain-main sesuka hatinya.

Gadis itu terdiam. Seolah menanti pendapatku. Atau penguatan dariku? Bukankah sebenarnya ia sadar di mana letak permasalahannya? Dan entah berkaitan atau tidak, aku hanya bisa berujar, “Kupikir kau bukan kehilangan jati diri, tapi cinta.”

Gadis itu tersenyum. Wajahnya merekah seperti Wedellia triloba yang tumbuh di antara rerumputan nan hijau. Tak ada tanya lagi. Gadis itu meninggalkanku yang terpukau dengan kalimat yang kulontarkan sendiri. Ah, ya! Ini tentang cinta.

***
di balik 3 jendela,
20 Mei 2012 pk. 04.36 wib
goresan menjelang shubuh…

3 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s