Minta Tolong atau Nyuruh?

Ruang tengah rumahku sore tadi mendadak ramai oleh dua bocah cilik yang sedang asyik bermain. Mereka tak lain adalah keponakanku, Keyla dan Dinda. Jangan heran jika sebentar2 mereka tampak akrab, tapi sejurus kemudian berseteru untuk memperebutkan barang yang sama. Agaknya seperti itulah para anak perempuan bermain, saling puji dan saling iri. Butuh pemahaman ke mereka untuk tak selalu menginginkan barang milik orang lain.

Aku baru saja keluar dari kamar depan lantas duduk di dekat mereka hingga kudengar Keyla berkata, “Mau minta tolong atau nyuruh?” Aku tak tahu pasti duduk perkaranya. Hanya kulihat Dinda sedang memegang buku katalog tas milik ibunya. Mungkin ada kaitannya dengan itu. Aku kemudian tertawa geli mengingat sikap Keyla yang sok tua, yang menegur Dinda -kakak sepupunya- dengan suaranya yang melengking. Masih khas anak-anak tentu saja.

TTM. Tolong, terima kasih, dan maaf. Tiga kata pamungkas itu memang diajarkan ke mereka sejak kecil. Entah Dinda yang lupa bilang tolong saat meminta sesuatu pada Keyla atau memang Keyla yang kelewat peka dengan hal-hal semacam ini. Eceu’ yang juga ada duduk bersama kami ikut tertawa dan berujar, “Nah, betul tuh, Key!” Akupun memberikan penguatan dengan mengacungi jempol ke arah Keyla. “Baguuus…!” kataku.

Tak hanya itu, Si Eceu’ mengikutiku dengan mengacungkan jempolnya untuk Keyla. “Kalo buat Dinda beginii..” katanya seraya membalikkan jempolnya ke arah Dinda. Aku pun tambah memanaskan suasana -dasar tante usil, heheu- dengan memberikan poin ke mereka, seolah dua keponakanku ini sedang mengikuti suatu kompetisi. “Keyla dapet satu poin. Dinda poinnya masih nol.”

Dinda yang merasa terpojok akhirnya mengeluarkan suaranya. “Ya udah, ulang lagi deh!”

Hahaha. Terang saja aku dan Eceu’ tertawa puas mendengarnya. Masa’ diulang lagi?? -jangan ditiru yaa, niat baik harusnya mah bukan untuk diketawain :P- Maka, tanpa meminta persetujuan forum yang ada di ruang tengah, rekonstruksi ulang pun dilakukan :)). Dari situlah aku baru tahu asal usul teguran Keyla. Katalog itu awalnya berada di dekat Keyla. Lalu, Dinda meminta Keyla mengambilkan untuknya -tanpa kata tolong, hehe-. “Keyla, tolong ambilin buku itu yaa,” ujar Dinda saat adegan itu diulang. Aku lantas mengapresiasi usaha Dinda dengan memberinya 4 poin (ini juga sebenarnya atas permintaan Dinda, hoho). Dan khawatir terjadi keributan lagi karena skor yang tidak seimbang, aku memberi Keyla 3 poin karena telah membantu Dinda.

“Jadi Dinda dan Keyla sama-sama dapet empat poin. Horeee. Tepuk tangan semuanya!” Dan dua bocah itupun mengikuti instruksiku😀

Saat adikku pulang, kuceritakan kejadian sore tadi padanya, sekaligus meminta pendapatnya, apakah secara psikologis tindakanku tadi baik untuk perkembangan mereka nantinya atau tidak. Aku khawatir jika keinginanku untuk mengingatkan Dinda tentang prinsip TTM justru membuatnya merasa dibanding-bandingkan, apalagi membuatnya berada di posisi bersalah. Duh, maaf yaa Dinda! ^^v

“Anak seusia mereka (4 tahun) itu belum ngerti tentang motivasi. Tapi mereka pantang menyerah,” simpul adikku. Yaph, beruntung saat kejadian tadi Dinda menanggapinya dengan positif dan terpacu untuk memperbaiki kesalahannya. Dua keponakanku pun kembali bermain seperti biasa. Saling tunjuk tas-tas yang lucu menurut mereka lantas tertawa bersama.

Fyuuh~
Mendidik anak emang nggak gampang yah!
Kasih empat poin juga deh buat para ibu yang sukses mendidik anak-anak mereka menjadi sosok yang berakhlakul karimah ^^b

***
Ruang tengah,
24 Mei 2012 pk. 21.31 wib
baca baca baca!

14 responses

  1. iya gapapa si menurutku”Kasih empat poin juga deh buat para ibu yang sukses mendidik anak-anak mereka menjadi sosok yang berakhlakul karimah ^^b”ikut nyumbang jempollllllllll

  2. cuma bagian yang membalikkan acungan jempol itu kayaknya emang jangan dilakukan yaa. mesti diperhalus caranya.kasih 4 poin juga buat kiki yang mau jadi ibu. hoho.

  3. ziyypoin itu maksudnya nilai buat mereka ^^vpak rifkiwah, kayaknya babenya syaikhan lebih pengalaman neh :Dmba arie*dudung samping mba arie**ikutan blajar*trus gurunya siapa? ^^a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s