[Love Journey] Boalemo: Dalam Sebuah Perjalanan

Rugi untuk menampik kebaikan orang lain walaupun kamu belum mengenalnya. Bersikap waspada itu boleh, tapi pada tempatnya..
Ingat, terkadang kita akan sangat membutuhkan kebaikan orang-orang yang belum kita kenal, terutama ketika kita dalam sebuah penjelajahan di tanah orang….
[Tahta Mahameru, hal. 119]

17 Desember 2011

Ini adalah weekend kedua sejak kami menginjak Gorontalo Utara untuk sebuah proyek pengadaan air bersih. Aku dan Evi, kawan seperjalananku, sadar betul bahwa menghabiskan akhir pekan di kosan tanpa kegiatan apapun sangatlah membosankan. Belum lagi panasnya Bumi Serambi Madinah ini membuat kamar kosan tak jauh beda dengan tempat sauna.

Kami lalu merencanakan perjalanan ke kota. Ada beberapa bahan kebutuhan yang ingin dibeli, yang pastinya nggak ada di desa tempat tinggal kami. Kalau bisa sih sampai menginap juga di sana. Soal penginapan, kami berharap Bu Upik, orang Gorontalo yang baru kami kenal saat di pesawat yang bertolak dari Bandara Hasanuddin bisa memberikan tumpangan. Sayangnya, ketika tiba di Hypermart, Bu Upik mengabarkan bahwa saat itu ia sedang berada di Makassar, menemani suaminya. Hyaa…

Tentu saja aku dan Evi sudah menyusun rencana cadangan. Kalau tak bisa menginap di kota, maka kami akan menginap di Boalemo, kabupaten lain yang terletak di selatan Gorontalo. Di sana, ada Sely, teman satu proyek yang tinggal bersama keluarga angkatnya. Meski tak terlalu paham dengan rute yang diberikan, kami nekat saja berangkat ke Boalemo.


bentor-bentor yang berjajar di depan Hypermart


Lepas makan siang di dekat Hypermart -yang ternyata merupakan warung sunda, hayyah-, kami bernegoisasi dengan Om Bentor yang akan mengantar kami menuju terminal terdekat. Warga sekitar menyarankan agar kami cukup membayar Rp 3.000 perorang. Tapi Om Bentor kekeuh menawarkan harga Rp 5.000. Dan belakangan kami tahu bahwa ongkos tersebut sebanding dengan perjalanan yang cukup jauh. *sotoy sih

Tiba di Terminal Andalas, kami bertanya ke petugas di loket masuk terminal tentang angkutan mana yang harus kami naiki menuju Desa Tapadaa (baca: Tapada-a). Tak lupa kami bertanya berapa ongkos yang harus dikeluarkan. “Rp 30.000,” katanya. Suasana terminal tak seramai terminal di Jakarta. Tapi tentang keberadaan calo, kupikir di mana-mana pasti ada.

Beberapa angkot berwarna biru terparkir manis di terminal. Dua orang asing ini jelas tampak kebingungan naik angkot yang mana. Dengan agak takut, aku dan Evi menghampiri beberapa orang yang sedang bergerombol di dekat angkot-angkot yang berjajar. Satu orang, dengan kulitnya yang gelap plus wajah yang agak sangar, meminta kami menghampirinya.

“Begini saja, kalian naik angkot itu, nanti turun di Tilamuta. Dari sana, kalian naik angkot yang menuju Tapadaa.” katanya sambil menunjuk angkot yang terpisah sendiri. “Bayarnya Rp 20.000 saja. Bagaimana?” tawarnya kemudian.

Arahan yang kami dapatkan dari Sely, teman kami, adalah naik angkot sekali dan berhenti di perempatan Tapadaa. Sayangnya, kami seolah tak punya pilihan lain kecuali menaiki angkot yang hanya sampai di Tilamuta itu. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua siang. “Calo” di sana mengatakan bahwa angkot ini yang terakhir. Jam tiga nanti mungkin sudah tidak ada lagi angkot yang beroperasi.

Di mana Tilamuta? Seberapa jauh dari Tapadaa? Entahlah. Kami benar-benar buta jalan. Yang kami tahu hanya untuk sampai ke Tapadaa membutuhkan waktu dua jam. Maka, hanya Om Sopirlah -yang ternyata bapak berwajah sangar itu- satu-satunya yang bisa mengarahkan kami ke “jalan yang benar.”

pemandangan dari balik jendela angkot


Setelah melewati jalan yang berliku dan berbukit-bukit, kami sampai di daerah yang cukup padat penduduk. Satu persatu penumpang mulai turun. Yang menarik adalah angkot tersebut akan mengantarkan mereka sampai ke rumah. Tapi buatku yang nggak paham medan ini, kekhawatiran justru bertambah. Di mana kami harus turun, om?

Tak banyak tanggapan dari Om Sopir. Ia tetap fokus mengendarai mobil, meski kutangkap raut gelisah di wajahnya. “Kita nggak nyasar, kan?” tanyaku dalam hati. Pasalnya, kulihat ibu yang duduk di depanku tampak mengeluhkan jalan yang diambil Om Sopir. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Sely yang khawatir terus mengirimkan pesan menanyakan posisi terakhir kami.

Akhirnya angkot berhenti di suatu daerah yang benar-benar asing. Apakah ini di Tilamuta? Entahlah. Aku turun dengan langkah gontai. Evi kemudian menyerahkan selembar uang lima puluh ribu dan mendapat Rp 10.000 sebagi uang kembali. Lebih murah dibandingkan penumpang lain yang membayar ongkos sebesar Rp 25.000.

Kami kemudian diminta untuk menunggu sejenak sampai ada angkot yang membawa kami. Awalnya kupikir sang sopir akan pergi begitu saja setelah menurunkan kami -lagi-lagi bercermin pada kondisi di Jakarta- tapi ternyata bapak berwajah sangar itu keluar dari kursi duduknya dan membantu mencarikan angkot untuk kami.

Ya Allah.. benar-benar terharu…

Berhubung angkot ke Marisa penuh, maka Om Sopir yang baik hati memberhentikan mobil pribadi yang akan melewati Desa Tapadaa. Masyarakat sekitar menyebutnya taksi gelap. Pada dasarnya memang hanya ada satu jalan menuju Tapadaa. Maka, setiap mobil yang akan menuju Marisa, terminal terakhir di Boalemo, pasti akan melewati Tapadaa. Jalur tersebut juga merupakan jalur trans antarkota menuju Palu. Tak heran jika kendaraan pribadi yang melaju di sana merangkap juga sebagai taksi gelap.

Om Sopir lalu menyerahkan uang kembalian kami ke supir taksi gelap. Aseli, speechless banget saat itu. Kami benar-benar terima beres. Belakangan, kamipun menyadari bahwa yang dikeluhkan ibu di angkot itu bukan karena Om Sopir tak tahu rute menuju rumah
nya, tapi karena ia sibuk mencari pemberhentian yang tepat untuk kami.

Saat berpisah dengan Om Sopir, kami mengucap banyak-banyak terima kasih padanya yang begitu baik pada “Orang Jawa” ini.

Tak banyak obrolan di dalam taksi gelap yang melaju ke Tapadaa. Pun mobil yang berisi satu keluarga itu tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Tak masalah. Yang terpenting saat itu adalah aku dan Evi bisa sampai lokasi dengan selamat. Kamipun merasakan kenyamanan dan keamanan sepanjang perjalanan. Yang teramat panik justru Sely karena khawatir kami dibawa kabur taksi gelap itu.

Bisa dibilang perjalanan kami menuju Boalemo ini memang cukup berisiko. Tapi kupikir apa yang disampaikan Bu Upik di dalam pesawat yang membawa kami menuju Gorontalo benar juga: orang Gorontalo itu mayoritas baik hati.

Desa Tapadaa – desa di pesisir Boalemo


“Semoga Allah menganugerahkan kebaikan, melindungimu dari keburukan, menguatkan langkah dan niat dalam mewujudkan tiap cita. Aamiin. Semangat, Ai! Fi amanillah yaa :-)”


Doa itu disampaikan seorang saudari menjelang keberangkatanku menuju Gorontalo. Dan bolehlah kukatakan jika doa itu begitu mustajab. Ia berhimpun dengan doa yang sama, yang dipanjatkan ayah, sahabat, dan tentu saja olehku sendiri. Hampir sebulan di kampung orang tentu membawa sedikit kecemasan tersendiri.

Ada begitu banyak kemudahan dan perlindungan yang kudapatkan. Maka, kuanggap hal itu sebagai sebentuk cinta-Nya yang Ia hadirkan melalui tangan orang-orang baik yang kutemui selama perjalanan ini.

Catatan:
Bentor = becak motor, alat transportasi umum di Sulawesi
di Gorontalo, supir bentor atau angkot biasa dipanggil om
“Orang Jawa” adalah sebutan untuk siapa saja yang berasal dari P. Jawa, meski berasal dari Jakarta sekalipun

Tulisan ini merupakan versi panjang dari 3 jurnal yang pernah kubuat di sini, di sini, dan di siniiiii niiiih. Dan tulisan ini dibuat dalam rangka menyemarakkan lomba yang diadakan Fatah dan Mba Dee di sini

28 responses

  1. Kembalian ongkos angkotnya 10rb. Bukan 20rb.Kita bayar lebih murah dibandingkan penumpang lain.Penumpang lain bayar 25rb.Pas baca kutipan itu di Tahta Mahameru, yang langsung keinget adalah kisah perjalanan ke Boalemo. Aih, udah 5bulan, tapi tetep kuat diingatan.🙂

  2. Nah, untungnya punya teman perjalanan kayak gini neh. bisa ngingetin hal2 yang lupa. Hoho..Jujur, aku sempat lupa nama terminalnya makanya gak ditulis. Hoho.. Tapi terpukau sendiri waktu apal nama daerah Tilamuta. Bener kan yaa Vi?😀

  3. di Gorontalo ada kantor cabang instansi saya di Gorontalonya sama satu lagi di kota Marisa…kak Ai sempat ke sanakah juga?*tadi ketemunya daerah Marina tuh*

  4. mylathief said: kukira love journeynya yang ke Bontang😀

    tadinya pengen ngeluarin cerita pamungkas sewaktu pulang dari TN Kutai itu. Betapa aku begitu cintanya sama Borneo sampe gak cukup hanya menginjakkan kakiku di sana :))*makasih untuk Teni & Evi, dua travelmate yang baik hati ^^

  5. indev said: Ka ai, bener kata mas nanazh tuh.Bukan Marina, tapi Marisa. Tadi udah kroscek ke Sely. *kepo soalnya, hehe*

    jiaaah.. sampe kroscek ke Sely. xixi..makasih yaa eviiii.. ada lagi gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s