(Mencoba) Mencintai Mafia

Saya tak tahu kapan pastinya saya membenci mafia, mungkin sejak pelajaran biologi mengambil porsi besar dalam jadwal perkuliahan saya. Biologi umum, biologi sel, keanekaragaman, fisiologi, ekologi, dan mata kuliah lain yang tak pernah bosan memperbincangkan makhluk hidup, mulai dari yang ghaib, sampai sebesar gajah.

Loh, trus apa hubungannya dengan mafia? Mungkin begitulah tanya yang mewarnai pikiran pembaca. Oh, ya, saya harusnya mengatakan hal ini sejak awal. Mafia yang saya maksud sebenarnya adaah gabungan dari tiga pelajaran murni yang menjadi dasar di fakultas tempat saya bermain menuntut ilmu, yatu matematika, fisika, dan kimia. Istilah itu pertama kali saya ketahui saat masih berstatus maba (mahasiswa baru). Saat itu saya mewawancarai beberapa kakak tingkat, bertanya pelajaran apa yang paling disuka dan tak disukai. Dan hampir seragam, mereka menjawab yang tak disukai adalah pelajaran mafia itu.

Ada apa dengan mafia? Ketika saya bertanya pada teman-teman seangkatanpun, kata mafia seolah menjadi momok yang menakutkan. Selama satu tahun itu, saya dan kawan-kawan memang harus berinteraksi kembali dengan sang mafia. Mungkin sebagian orang berpikir ketika mengambil jurusan biologi, maka tak perlu lagi belajar matematika, fisika, dan kimia. Dan sama halnya dengan pikiran teman-teman di jurusan lain: fisika, kimia, matematika, mereka tidak suka pelajaran biologi. Tapi teman-teman di geografi lebih menyedihkan lagi, bukan hanya pelajaran mafia, tapi juga biologi (suatu hari mereka sepertinya memang harus keluar dari Fakultas MIPA)

Saya sebenernya masih heran kenapa mafia bisa jadi pelajaran yang dihindari. Bukankah dulu pelajaran itu juga dipelajari di SMA? (tentunya jika sang mahasiswa ketika SMA mengambil jurusan IPA). Yang membedakan hanya kata “dasar” setelah pelajaran itu. Hingga nama pelajarannya menjadi matdas, fisdas, kimdas. Ah, tapi saya pikir karena faktor “das” itulah hingga yang sederhana jadi terasa rumit. Kalau dulu hanya tau persamaan garis rumusnya begini, maka saat duduk di kelas matdas, rumus yang begini dipertanyakan asal usulnya: kenapa begitu?

Kalau saya merasa heran, sebenernya keheranan itu datang dari diri saya sendiri. Biologi jelas bukan pelajaran yang paling saya cintai saat di SMA dulu. Mungkin karena faktor hafalannnya yang banyak, atau pelajaran di kelas 3 SMA yang membuat dahi saya berkerut-kerut. Saya mencintai matematika. Dan rela-rela saja memecahkan soal yang belum terjawab, meski dahi saya berkerut, bahkan sampai kusut sekalipun.

Tapi semuanya berubah sejak saya terdaftar sebagai mahasiswa di jurusan biologi. Yang dulunya sangat cinta matematika, mendadak hilang selera dengan pelajaran itu. Yang tadinya benci pelajaran fisika, makin dibuat benci dengan pelajaran itu. Haha. Dengan kimia, saya sebenarnya tidak suka juga. Tapi saya harus bersabar karena pertemuan dengan kimia lebih lama dibanding dengan matematika dan fisika. Saya masih harus mengambil kimia organik (kimor) dan biokimia.

Sebenci-bencinya saya, juga teman yang lain, pada mafia, pelajaran itu tak bisa tidak untuk diambil. Bagaimanapun, mafia memang akan bersinggungan dengan biologi, terutama kimia. Mereka adalah mother of science yang saling berkaitan satu sama lain. Persoalan suka tidak suka ini sebenarnya hanyalah faktor kebiasaan.

Dari semua pelajaran menyebalkan itu, (kecuali kimor, heeu ) alhamdulillah saya selalu lulus (dan kata lolos sepertinya lebih tepat disematkan untuk pelajaran fisdas ^^v). Tapi ketika saya mengulang kimor dan rajin datang ke kelasnya (inilah kunci sukses lulus pelajaran kimor), ternyata saya bisa jatuh cinta juga dengan pelajaran yang pernah memberi saya nilai C- itu. Tentu cinta itu harus dipupuk dan dibina, kalau tidak, mungkin nasibnya seperti cinta saya pada si kimor. Hanya sesaat. Setelah lulus makulnya, saya hilang rasa.

Saat ini, ketika saya harus bertemu kembali dengan mafia karena tuntutan mengajar, maka yang saya butuhkan adalah mencoba mencintainya. Memberikan lebih banyak perhatian saya, berulang kali memperbincangkannya, hingga rasa malas bertemu sirna sudah. Dan saya sedang belajar mencintai mafia. Doakan saya yaa!

***
ruang tengah,
9 Juni 2012 pk. 08.34 wib
tapi ketika saya kemudian selingkuh dengan kegiatan tulis menulis ini, mohon dimaklumi, bagaimanapun, menulis masih lebih saya cintai dibanding mafia, bahkan pelajaran biologi sendiri ^^v

gambar dari sini

26 responses

  1. faziazen said: dulu waktu sma ambil jurusan ipa, tapi kuliah jurusan bahasa😀

    dulu punya keinginan kayak gitu juga, mba. tapi gak diizinin ayah😛

  2. alhamdulillaah di teknik gak ada biologi meski masih ada matkul wajib kimia.dan senang nya kembali berhadapan dengan matematika n fisikaa \^o^//*tapi dosen2 nya dari mipa -__-“

  3. Aku dari kecil suka math, tapi pas kelas 2SMA, aku mulai mudeng belajar kimia, jadilah aku masuk kimia murni. HuhuhuDulu saat matkul FisDas 1, dosennya bilang meski kalian jurusan kimia, kalian juga tetep belajar fisika dasar. Karena kalian Sarjana Sains, bukan Sarjana Kimia. *kyanya Pak Dosennya tau banget klo kita pada nggak suka sama fisika. Hihihihi*klo nggak mau ketemu sama fisika, ya masuk ke jurusan IPS. Huah.

  4. indev said: Oya, anak math itu sampe membuktikan kenapa 1+1=2klo kata jurusan lain mah, kurang kerjaan, hahaha

    hahaha… aku jadi inget jawaban ijonk waktu kampanye kabem-wakabem di mipa.”1 + 1 = sakinah mawaddah warahmah”

  5. jampang said: nilai kimia saya di kelas satu SMA lima. jadinya ngambil IPS

    iyaa.. saya juga pengen ke ips, tapi nilainya pas2an. otak saya kayaknya emang lebih cocok masuk ipa😀

  6. dyasbaik said: alhamdulillaah di teknik gak ada biologi meski masih ada matkul wajib kimia.dan senang nya kembali berhadapan dengan matematika n fisikaa \^o^//*tapi dosen2 nya dari mipa -__-“

    emang kenapa kalo dosen2nya dari mipa? keren dong #ehmatematika masih bisa kutaklukkan yas. tapi kalo fisika, memahami konsepnya itu yang ampun2an😛

  7. indev said: Aku dari kecil suka math, tapi pas kelas 2SMA, aku mulai mudeng belajar kimia, jadilah aku masuk kimia murni. Huhuhu

    kamu dulu kelas 2 diajarin pak tigor atau bu wiwik?aku agak mudeng pas kelas 1 diajar pak tigor. tapi paling mantep emang pas diajarin mami sulis. beliau wali kelasku juga pas kelas 3😀

  8. indev said: Dulu saat matkul FisDas 1, dosennya bilang meski kalian jurusan kimia, kalian juga tetep belajar fisika dasar. Karena kalian Sarjana Sains, bukan Sarjana Kimia. *kyanya Pak Dosennya tau banget klo kita pada nggak suka sama fisika. Hihihihi*klo nggak mau ketemu sama fisika, ya masuk ke jurusan IPS. Huah.

    lah kalo di biologi suka mengkotak2kan hewan, tumbuhan, atau mikro aja suka diomelin, hehe… tapi untungnya sejak angkatanku praktikum fisika dan praktikum kimor ditiadakan. wohoho..

  9. akuai said: sastra jepang. tapi kata ayah mending kursus aja kalo pengen bisa bahasa jepang, hedeeeh..

    hehehe nurut amat ya..salutkalo saya tipe pemberontak sih..pengennya sastra inggris ya sastra inggris..untung lolos..padahal passing grade nya tinggi

  10. Kelas 2 aku diajarin Pak Tigor juga. Gegara aku disuruh ngerjain didepan, untung bisa. Sejak itu pas aku kebagian disuruh Pak Tigor mulu maju ke depan.Iya, pas kelas 3 mah mudeng banget sama Bu Sulis.Kan klo mikir harus tek tek tek. Nggak boleh planga plongo. Hehehe

  11. indev said: Kan klo mikir harus tek tek tek. Nggak boleh planga plongo. Hehehe

    hahaha.. bangeeett… kelas 3 guru2nya super killer banget. kolaborasi mantep antara bu sulis, pak agus, bu nel :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s