Biru

Kakak, apa kabar? Itulah sapa pertamaku saat kembali bertemu denganmu. Kau hanya tersenyum dan kurasa itu pertanda baik. Mungkin merah muda adalah warna yang tepat untuk mewakilinya. Penuh kelembutan, keriangan, dan tentu saja cinta.

Kau tak sempat bertanya kabarku. Bukan karena kau lupa atau tak acuh, tapi kau pasti menangkap rona bahagia di wajahku. Ah, bagaimana mungkin aku tidak bahagia mengetahui bahwa warna-warna sendu telah pudar perlahan dari harimu. Atau sebenarnya ia masih menyelimutimu, tapi kini porsinya tidak terlalu banyak. Syukurlah.

Kau tahu, Kak, sebenarnya saat itu biru sedang membersamaiku. Tadinya kupikir kelabu yang menemaniku, tapi kusadari bahwa biru lebih tepat untuk mewakili perasaanku. Ya, aku sedang bersedih tentang apa yang belakangan ini terjadi.

Kak, tadinya aku ingin bercerita tentang episode biruku, tapi kau begitu bersemangat menceriterakan kisah indahmu. Tak apa, Kak. Sungguh. Aku senang menjadi telingamu, seperti dulu. Tapi biarkan kali ini aku menuangkan sedikit keresahan hatiku, Kak. Sedikit saja. Meski kuingin berbagi lebih banyak lagi, tapi hati kecilku bilang aku tak perlu melakukannya. Ya, terkadang kita memang harus menyanggupi suara hati yang terdalam itu.

Perpisahan dan kerinduanlah yang merangkai warna biru dalam kalbu. Tentang kerinduan, aku masih bisa menyikapinya. Jika aku ingin, cukup kubuka kotak kenangan untuk mengobatinya. Tapi tentang perpisahan, Kak, aku tak pernah tahu apakah akan ada masanya yang telah pergi akan kembali. Dan tentunya aku tak punya kuasa untuk memutar kembali waktu atau mengubah masa depan sesuai kehendakku.

Perpisahan itu terlalu pahit, Kak. Saat kau tumbuh bersama orang-orang yang kau sayangi, berbagi suka duka dengan mereka, lantas karena satu dan lain hal kau harus berpisah (atau terpisah) dengan mereka. Meski ada kesempatan untuk bertemu, dan semua bisa jadi tampak baik-baik saja, tapi kusadari perubahan itu niscaya. Semua tak lagi sama.

Aku tak ingin ada perpisahan yang menyedihkan lagi. Satu-satunya perpisahan yang kuharapkan kini adalah agar biru segera meninggalkanku.

***
di balik 3 jendela,
14 Juni 2012 pk. 15.34 wib
sebiru hari ini..

5 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s