Jodoh yang Kau Abaikan

Aku tak tahu. Catatannya yang tak selalu kulihat. Atau memang dia yang jarang menulis. Yang pasti, pagi tadi senyumku terkembang. Sebuah catatan baru telah dibuatnya.

Kubaca kata demi kata yang terangkai. Hei, sadarkah kau, saudari? Tulisanmu begitu indah.

Sepertinya benar. Mereka yang rajin membaca akan mampu menghasilkan karya tulis yang luar biasa. Deskripsi nan apik. Diksi yang tak biasa. Alur yang mengalir. Renyah. Dan mereka seringkali tak menyadarinya.

Berkebalikan denganku.

Dalam sebuah diskusi sastra, seorang penulis pernah berkata pada para audiens. “Jodohnya membaca itu menulis.” Maka, mengapa tak kau jemputlah jodohmu? Menulislah! ^_~

akuai
25 April 2011 pk. 23.19 wib

Tulisan yang pertama kali kubuat bulan April tahun lalu itu tentu bukan tanpa latar belakang. Beberapa teman di kampus yang kukenal rajin membaca, teramat jarang sekali menelurkan buah pikirannya ke dalam tulisan. Tapi sekalinya ia membuat tulisan, aiiih, aku terpesona. Maka, tulisan tersebut sengaja kutujukan pada mereka. Berharap agar mereka juga bisa rajin menulis, menyuarakan apa yang ingin disampaikan. Bukankah akan lebih baik jika ditulis oleh seseorang yang baik cara bertutur dan diksinya? Begitu pikiranku saat itu.
Tanggal 14 Juni 2012. Awalnya aku ingin me-repost postingan yang kubuat di note FB itu. Sudah kubuat draft-nya, tapi tak kunjung kuterbitkan. Adalah seorang kawan yang membuatku ingin sekali membagi tulisanku ini untuknya kala itu. Sejujurnya, aku merasa kesal padanya. Kenapa sih orang yang bisa membuat tulisan dengan indah memilih untuk jarang menulis? Atau tak ingin tulisannya dinikmati banyak orang? Sedangkan aku, bahasa tulisan masih sangat abstrak tapi berani-beraninya membuat tulisan tentang ini itu.

Tapi, kemudian kuurungkan niatku. Emosi yang berlebihan harus diredam sementara waktu. Tulisan itu akhirnya hanya tersimpan sebagai konsep. Hingga hari ini.

Karena dia. Ya, lagi-lagi karena dia hingga aku begitu bersemangat menambahkan catatan di bawah tulisan yang kubuat lewat setahun yang lalu itu. Tapi kali ini emosinya berbeda. Semua berawal saat ia membuka ruang diskusi malam ini.

Tell me,
menulis untuk apa? mengapa? kenapa?

Aku tentu bingung harus menjawab apa. Ada banyak alasan seseorang untuk menulis. Pun denganku. Dan terkadang alasan-alasan itu dapat berbeda tergantung situasi dan waktunya. Tapi satu hal yang pasti, alasan utamaku menulis seperti yang kusampaikan kemudian padanya.

: Menulis karena aku suka menulis. Tak ada alasan untuk rasa suka.


***
di balik 3 jendela,
28 Juni 2012 pk. 20.29 wib
obrolan penutup sebelum aku benar-benar menerbitkan tulisan ini:

“Kalau boleh tahu, kamu butuh pendapat buat apa?”
“Inspirasi.”
“Butuh inspirasi buat apa?”
“Biar aku semangat nulis.”
“Aku suka kalau kamu semangat nulis ^^”

96 responses

  1. nilagerimisenja said: tulis apa yang kau lakukanlakukan apa yang kau tulis—-gitu ya?

    nah, yang berat itu lakukan apa yang kau tulis. dalam hal ini terkait pesan2 kebaikan yah ^^

  2. hwwibntato said: menulis, ah …*menulis komen … he he he …gud gud gud …

    terima kasih sudah menulis, om hen. meski hanya menulis komen. mohon tingkatkan lagi jumlah katanya yaa :))

  3. jaraway said: ih.. ai ga tafahum deh =phahaha.. aku kan jadi labu kalo tiap jam 9 malem *berasa pemeran figuran di cinderlele..qeqe

    susah juga yaa kalo di dumay kayak gini. aku sih palingan yang kubatasi itu chat aja😀

  4. cawah said: akhirnya selesai juga baca jurnal dan semua koment hahahahhax…seruuu,..^^v

    terima kasih atas waktu yang diluangkan catur untuk membaca semua tulisan di sini. #kasihjempolkakigajah

  5. mutsaqqif said: Soalnya, mbak mas fajar itu sering dikira Laki Laki :p*masihngajakribut😀

    yayaya… berarti tunggu balesan dari mbak masjarnya besok gitu yaa ^^a

  6. akuai said: terima kasih atas waktu yang diluangkan catur untuk membaca semua tulisan di sini. #kasihjempolkakigajah

    kak ai selalu bs membuat semangat nulis hahahax..*nulis comment wah?😄

  7. akuai said: iya, dan aku udah baca.judulnya. hwahaha… maaf rifi, belum sempat mampir.. segera ke TKP deh buat kasih paraf. *berasa pengawal tulisan :))

    beuuuuhhh -___________________________________________________-

  8. Jempppooooollllll buat AiAku mulai ngerasa jarang nulis, nih. Jd kesentil, hehe.Abis aku tuh kuatir dibilang PDA, #ehEtapi, bnyk hal yg seru yg bs dishare, tp tapi tapi aku merasa bersalah krn mulai senin aku UAS, trus setrikaan numpuk, trus, aku baru bli detergen,dan kudu nyuci, hmm. Kok, aku malah jd pengen nulis yg lucu2 ya, hahaha.Aduh, Ai. Kamu mmg menginspirasi :)#curhatkepanjangan😀

  9. akunovi said: Jempppooooollllll buat AiAku mulai ngerasa jarang nulis, nih. Jd kesentil, hehe.Abis aku tuh kuatir dibilang PDA, #ehEtapi, bnyk hal yg seru yg bs dishare, tp tapi tapi aku merasa bersalah krn mulai senin aku UAS, trus setrikaan numpuk, trus, aku baru bli detergen,dan kudu nyuci, hmm. Kok, aku malah jd pengen nulis yg lucu2 ya, hahaha.Aduh, Ai. Kamu mmg menginspirasi :)#curhatkepanjangan😀

    hohoho.. soal PDA itu, hemmm.. no comment ah! buat orang yang suka nulis macam mba nov, kebutuhan untuk curcol via tulisan pastilah besar dan sulit terbendung. pasti bakal nulis, yaa paling sekarang tertahannya bukan cuma khawatir dibilang PDA, tapi karena cucian yang numpuk itu :))

  10. Temenku juga ada yang bookholic banget. Dari kecil rajin baca. Mulai dari majalah, komik, fiksi, non fiksi, filsafat pun dibaca. Klo insomnianya kumat, dia pasti baca buku sampe pagi. Klo pulang sekolah, selalu rajin ke BuBu (tempat baca) di margonda (sekarang kyanya udah ga ada).Kasusnya sama kya temen”nya ka ai itu.Kyanya kita udah pernah saling cerita tentang masalah ini yak. Hehehe

  11. indev said: Temenku juga ada yang bookholic banget. Dari kecil rajin baca. Mulai dari majalah, komik, fiksi, non fiksi, filsafat pun dibaca. Klo insomnianya kumat, dia pasti baca buku sampe pagi. Klo pulang sekolah, selalu rajin ke BuBu (tempat baca) di margonda (sekarang kyanya udah ga ada).Kasusnya sama kya temen”nya ka ai itu.Kyanya kita udah pernah saling cerita tentang masalah ini yak. Hehehe

    malam-malam yang panjang di Gorontalo membuat kita sharing banyak hal, vi. hahaha…ehya, bubu dulu sempat pindah dekat SS, tapi gak tau juga nasibnya sekarang. kalo pas SMA aku suka minjem komiknya di Asterix.

  12. akuai said: aaah, iyaaa. pengen kesana. temenku bilang, sehari terbit di toko buku, esoknya buku itu bisa udah terpajang di perpus malang. waaah!iya iya, ini soal habituasi aja yaa… *ayo ai, jangan malas baca!

    semangatt🙂

  13. hahaha, bahasamu, nas. :Demm, mungkin karena enggan. atau karena terlalu sering bersama malah jadi bosan. beberapa editor memilih jadi pengoreksi saja daripada jadi penulis. padahal kita tahu bacaannya pasti segunung.

  14. akuai said: merasa kesindir, om? :Dkomen brilianku pasti sangat dinantikan yaa? wahaha.. mampir gak eaa..?! #alaykumat

    nggak kesindir, hanya mencoba mengait-ngaitkan diri🙂

  15. luvummi said: Bersin beneran si :p :Daiiii, maenn yuukk.. Hari ini kosong? Makan siang bareng yuukkk *ngajak makan bukan karna mau curcol, hahaha*

    diaaaah.. komenmu yang ini barengan sama anas, jadi gak kebaca. wkwk… hadah, kali inipun gak bisa maksi bareng lagi kita😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s