Dangdut Sampai Pagi (2)

“Seorang teman pernah bertanya, “Memakai jilbab berarti jenis pekerjaan yang bisa kamu pilih terbatas, dong?” Aku jawab, justru aku bersyukur. Orang lain akan mengetahui jenis pekerjaan apa yang bisa ia berikan untukku. Pekerjaan yang akan kulakoni nanti adalah pekerjaan yang baik dan tidak melanggar ketentuan Allah. Bukankah itu lagi-lagi membuktikan bagaimana jilbab melindungiku? (Oki Setiana Dewi, hal. 138)

Lalu, mungkin kau akan bertanya, apa kaitannya sepenggal paragraf yang kucuplik dari buku Melukis Pelangi itu dengan judul yang kugunakan dalam jurnal tengah malam ini?

Belum lama aku membuat fiksi mini bertemakan tentang dangdut yang idenya kudapat dari keluhan seorang kawan tentang betapa terusiknya ia karena ada acara dangdut yang berlangsung hingga lewat tengah malam. Dan seolah kena batunya, akupun kini sedang merasakan hal yang sama, terganggu oleh suara musik dangdut di dekat rumah. Entah kapan acara itu bermula, dan dalam rangka apa. Setahuku tidak ada tetangga yang melangsungkan pernikahan hari Sabtu ini.

Sudah lewat pukul satu malam dan suara musik khas melayu itu masih mengalun kencang. Tanpa perlu memastikan langsung, aku sudah tahu siapa yang sedang berdiri di atas panggung dangdut itu. Dialah tetanggaku. Biduan senior. Usianya sudah sampai kepala lima, tapi ternyata masih eksis juga. Kupikir dia sudah tobat nyanyi di atas panggung. Pasalnya, ibu itu kini sudah berjilbab.

Sebenarnya aku sudah merasa miris sejak pukul sepuluh malam tadi. Aku harus ke warung membeli sesuatu hingga harus melewati kerumunan warga yang hendak menyaksikan pagelaran dangdut itu. Dan kulihat ibu itu sudah berdiri di atas panggung, mengenakan jilbab dan baju pink, tampak asyik berdendang.

Lantas aku ingat kutipan di buku OSD itu. Rasanya memang tidak pantas seorang wanita berjilbab berada di atas panggung, mengundang siapa saja untuk berjoget bersama alunan musik yang ia nyanyikan. Ini bukan berarti bentuk pembatasan diri untuk mengaktualisasikan bakat yang dimiliki. Tapi benarlah bahwa jilbab itu akan menjaga kemuliaan kaum hawa. Menjadi identitas para muslimah.


Yaa mungkin harapanku terlalu tinggi pada ibu itu. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Dia hampir dipastikan selalu menyumbang lagu setiap kali acara dangdut berlangsung. Anaknya berjilbab rapi. Dan kupikir berkat anaknya jugalah sang ibu mau berjilbab. Aku sangat senang menyaksikan perubahannya itu. Luar biasa dan pastinya butuh perjuangan besar dari si anak dan pengorbanan besar dari sang bunda. Maka kuupikir, dia akan pensiun jadi biduanita. .

Setiap kita mungkin masih menyimpan bibit-bibit jahil. Yang ketika kesempatan untuk kembali ke masa-masa kegelapan itu datang, bisa jadi kita tak kuasa menahan diri untuk menjauhinya. Yah, bagaimanapun, dangdut mungkin saja telah menjadi bagian dari nafas sang biduan itu. Sulit terpisahkan.

Tapi, kalau melihat kejadian malam ini, aku mungkin hanya bisa bilang, dia belum sepenuhnya paham. Menutup aurat itu wajib bagi siapa saja yang mengaku muslimah. Dan ketika dia memutuskan untuk berjilbab, dan istiqomah, dalam artian tidak seperti beberapa ibu di dekat rumahku yang dengan santainya ke warung tanpa jilbab. Sedangkan dia tetap berjilbab. Dan semuanya memang butuh proses. Bahwa setelah jilbab telah dipakai, maka perilaku dan tutur katapun harus dijaga. Agar tak menjadi bumerang di kemudian harinya.

***
ruang tengah,
24 Juni 2012 pk. 01.57
lingkungan rumahku sudah senyap. tapi sayangnya aku tak lagi bisa tidur. -___-“

*gambar dari sini

31 responses

  1. cinderellazty said: Jadi kek cerita nyatanya dangdut sampe pagi yang pertama, bedanya anaknya kagak negor tp paling cm mbatin😀

    iyaaa… gak kebayang apa yang dipikirkan anaknya. huhu… aku suka serem bikin tulisan fiksi yaa kayak gini, nyerempet2 dunia nyata euy! masalahnya biasanya aku kalo bikin cerita emang based on true story dulu sih.. meski cuma 1 % misalnya :))

  2. Lah, komenya om iqbal sama heru ga ada unsur dangdutnya….Go Der Panzer….!!!!Ga boleh spanyol, soalnya udah menang piala eropa dan piala dunia berturut-turut. *ikutan komen euro*Klo biduanita di deket rumahku dulu, nyanyi dangdut oke, kosidahan oke.

  3. indev said: Lah, komenya om iqbal sama heru ga ada unsur dangdutnya….Go Der Panzer….!!!!Ga boleh spanyol, soalnya udah menang piala eropa dan piala dunia berturut-turut. *ikutan komen euro*Klo biduanita di deket rumahku dulu, nyanyi dangdut oke, kosidahan oke.

    emang tuh, mereka ngerusuh aja. kayaknya dulu aku pernah bikin postinga juga, pas piala dunia bukan sih? ngejagoin jerman eh dia malah kalah :))hehe.. ibu-ibu yah😛

  4. adeknya temenku udah berhijab lumayan besar, tapi dia seneng nyanyi. Dari remaja udah sering manggung. Ya mungkin gak pake joged sie..Kayaknya dia terinspirasi penyanyi malaysia yg kerudungan sambil gitaran gitu.

  5. puritama said: adeknya temenku udah berhijab lumayan besar, tapi dia seneng nyanyi. Dari remaja udah sering manggung. Ya mungkin gak pake joged sie..Kayaknya dia terinspirasi penyanyi malaysia yg kerudungan sambil gitaran gitu.

    emm, aku gak berani bilang haram bagi kaum hawa untuk nyanyi sih. secara suara itu juga bukan aurat kan yaa. hanya ada batasan2 yang memang harus dijaga. Nah, masalahnya, si ibu ini kan menyanyi di malam hari, dalam sebuah pagelaran yang bisa dibilang banyak mudharatnya gitu loh.. jadi kurang pantes aja sewaktu aku ngeliatnya.

  6. kalau aa gym bilang…. “alhamdulillah… sudah pake jilbab, kalau belum pake jilbab mungkin prilakunya jauh lebih buruk drpd itu”selanjutnya… mendoakan saja supaya beliaunya terasadar dengan hal-hal lain setelah mau mengenakan jilbab….horeeeeeeee….. spanyol lolos ke semi final!

  7. azizrizki said: osd juga nyanyi ya, tp pop bukan dangduthehetp g nyanyi di depan umum si yah

    aku belum pernah liat OSD nyanyi. cuma pernah berdendang sedikit lirik lagu gitu. lupa dimana. tapi yah, emang ujian artis itu besaar banget *meski semua juga punya ujian masing2 sih*

  8. indev said: Mba ii: klo aku taunya, adiknya osd yang nyanyi. Nyanyi di Islamic book fair tahun ini. Nyanyinya sambil main keyboard.

    iyaa, aku juga liat. adeknya itu emang bakatnya nyanyi.

  9. jampang said: kalau aa gym bilang…. “alhamdulillah… sudah pake jilbab, kalau belum pake jilbab mungkin prilakunya jauh lebih buruk drpd itu”selanjutnya… mendoakan saja supaya beliaunya terasadar dengan hal-hal lain setelah mau mengenakan jilbab….horeeeeeeee….. spanyol lolos ke semi final!

    iyaa, alhamdulillah..aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s