Dia Nggak Keren-keren Amat!

Jadi, kalo dibilang baca buku itu sia-sia, buang-buang waktu, sebenarnya itu salah besar. Yaiyalah. Mungkin banyak juga yang udah tahu. Membaca buku (atau yang lain) nyatanya mampu memicu otak untuk berpikir. Yah, seenggaknya hari ini, setelah menuntaskan sebuah buku, aku semakin menyadari satu hal

: Para penulis itu sebenernya nggak keren-keren amat!

Kalo kamu mengira dia itu pintar, gagasannya cemerlang, gaya bahasanya renyah, itu semua boleh jadi terbentuk karena dia banyak baca. Bisa jadi buah pikirannya itu bukan benar-benar lahir dari dalam dirinya. Tapi dari apa yang ia peroleh dari buku-buku yang dia baca. Nggak bisa sepenuhnya disebut plagiat, tapi pasti ada pengaruhnya.

Haha. Kenapa jadi sensi gini? Karena aku pernah kecewa. Dia yang kukira punya gagasan keren, ternyata hanya pengikut. Yang ia tulis sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Dan fakta ini aku ketahui setelah aku baca-baca juga. Wohoo.. seru! Menyadari bahwa dia ternyata nggak keren-keren amat, hanya seseorang yang kuduga rajin baca buku. Eh, tapi bukannya orang yang suka baca buku itu keren juga yaa?

Apalagi kalo dia duduk di taman sambil baca buku. Wajahnya yang tampak serius justru semakin terlihat keren. Kacamata dengan bingkai penuh warna hitam itu juga semakin membuatnya terlihat perfect! Iya, perfect ngayal komiknya! Heheu

Lalu, apa kamu pikir tulisanku ini juga bukan sesuatu yang fresh? Mungkin juga. Hanya kamu belum banyak membaca aja. Nah, mungkin kamu juga bakal bilang aku ini nggak keren-keren amat. Iya, tapi kan masih tetap keren meski nggak pake amat. Aku keren karena aku udah menulis. Kamu sendiri gimana?

Duh, ngemeng apa sih? >_<"

Emm, tapi ada satu hal yang sepertinya kontradiktif. Jadi, meski seorang penulis itu nggak keren-keren amat karena pemikirannya mengikuti buku yang dia baca, tapi apa yang salah sih dengan being follower? Selama yang diikuti hal-hal yang baik, kenapa nggak? Bayangkan, kalau sekiranya dia membaca al Quran, membaca tafsirannya, lalu semua itu memengaruhi pikirannya, hingga tertuang dalam tulisannya, ah, tidak, bahkan teramalkan dalam kesehariannya…. MasyaAllah!

***
ruang tengah,
3 Juli 2012 pk. 14.48 wib
setelah membaca “Yang Galau, Yang Meracaunya”-nya Fahd Djibran. Dan jadi galau karena masih teramat sedikit buku yang kubaca.

18 responses

  1. Aku punya temen yg tulisannya adalah hasil “nyomot” sana sini dr buku2 org2 keren…dan asli, dia bisa nyampeinnya dgn keren! Bahkan lebih keren dari para penulis yg dia comot kata2nya… Dan dia tetep bilang sumbernya loh. Asli keren!😀

  2. akuai said: Bayangkan, kalau sekiranya dia membaca al Quran, membaca tafsirannya, lalu semua itu memengaruhi pikirannya, hingga tertuang dalam tulisannya, ah, tidak, bahkan teramalkan dalam kesehariannya…. MasyaAllah!

    aku sukaaaaaaaaaaaaa selaki bagian ini

  3. Jadi ini semacan ceracau yah, kak? Tapi keren kok.. selalu kerenlah Kak Ai ini.. *mintapermen :pKatanya, memang tidak ada yang baru dibawah sinar matahari. Kita hanya mengolah hal-hal sebelumnya (baca:lama), dengan cara lain, cara baru, atau dengan sudut pandang yang berbeda. Maka jadilah ia ‘seolah’ baru. Nah itu tadi, paling keren kalau bisa disiplin mencantumkan sumbernya.Dan paling tidak keren kalau mencomot bulat-bulat tulisan orang trus ngaku2 sebagai tulisannya. *eh,curcol :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s